Pencarian

BPBD Lampung Pasang 6 Sirine Peringatan Dini di Pesisir Lampung Selatan untuk Mitigasi Erupsi Gunung Anak Krakatau

Rabu, 19 Agustus 2026 • 11:04:01 WIB
BPBD Lampung Pasang 6 Sirine Peringatan Dini di Pesisir Lampung Selatan untuk Mitigasi Erupsi Gunung Anak Krakatau
Enam unit sirine peringatan dini terpasang di sejumlah desa pesisir Lampung Selatan untuk mitigasi erupsi Gunung Anak Krakatau.

BANDARLAMPUNG — BPBD Provinsi Lampung menyatakan enam unit alat early warning system (EWS) yang terpasang di sejumlah desa pesisir Kabupaten Lampung Selatan siap digunakan untuk memperingatkan warga jika terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau. Alat yang merupakan bantuan Bank Dunia melalui BNPB ini akan berbunyi otomatis saat terdeteksi potensi gempa atau tsunami.

Kepala BPBD Provinsi Lampung Rudy Syawal mengatakan, eskalasi erupsi GAK beberapa waktu terakhir mendorong pihaknya meningkatkan koordinasi dengan Pos Pantau Krakatau. “Memang beberapa waktu ini Gunung Anak Krakatau ada eskalasi erupsi, sehingga kami secara rutin melakukan koordinasi dengan Pos Pantau Krakatau,” ujarnya di Bandarlampung, Selasa (18/8).

Sirine Berbunyi Otomatis, Bisa Dipicu Manual dari Pos Pantau

Rudy menjelaskan, alat EWS yang tersebar di titik-titik yang diprediksi terdampak pertama kali itu bekerja secara otomatis. Saat terjadi erupsi yang memicu peningkatan tinggi gelombang laut atau gempa, sirine akan langsung berbunyi tanpa perlu campur tangan manusia.

“Alat early warning system yang ada di daerah pesisir ini secara otomatis akan memberikan informasi awal, kalau terjadi erupsi yang berdampak pada peningkatan tinggi gelombang laut atau gempa,” kata Rudy. Jika terjadi kendala teknis, tim pusat pengendali operasi (pusdalop) dapat menyalakan sirine secara manual dari pos pantau.

Dipasang di Desa Tangguh Bencana yang Warganya Sudah Terlatih

Pemasangan enam unit EWS ini tidak dilakukan di sembarang lokasi. Rudy menegaskan, alat tersebut hanya dipasang di desa-desa yang telah berpredikat Desa Tangguh Bencana (Destana). Alasannya, masyarakat di desa tersebut dinilai sudah terlatih merespons peringatan dini dan mampu melakukan evakuasi mandiri dengan cepat.

“Karena Lampung Selatan memiliki tingkat kerawanan bencana cukup banyak, disana sudah banyak Desa Tangguh Bencana (Destana) yang dibentuk dengan bantuan dari NGO ataupun Bank Dunia,” jelasnya. “Di desa itu masyarakat sudah terbiasa, dan terlatih ketika ada kejadian, dan mereka bisa dengan cepat melakukan mitigasi di wilayahnya.”

Aktivitas GAK Masih Tinggi: 60 Kali Gempa Hembusan dalam Enam Jam

Data BPBD Provinsi Lampung pada Selasa (18/8) pukul 06.00-12.00 WIB mencatat aktivitas vulkanik GAK masih tinggi. Terjadi 60 kali gempa hembusan dengan amplitudo 18,5-72 mm dan durasi 22-78 detik. Selain itu, terekam dua kali gempa frekuensi rendah, gempa hybrid atau fase banyak, serta satu kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 1-40 mm.

Sehari sebelumnya, Senin (17/8), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami 20 kali erupsi dengan status siaga. Masyarakat dan pengunjung dilarang mendekati gunung atau beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.

Saat ini BPBD Lampung terus memantau kondisi terkini GAK melalui pusdalop. Koordinasi rutin dengan Pos Pantau Krakatau dilakukan untuk memastikan setiap perkembangan aktivitas gunung dapat direspons cepat, terutama bagi warga yang bermukim di pesisir Lampung Selatan.

Follow lampungvoice.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: lampung.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks