BANDAR LAMPUNG — Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas dalam sepekan terakhir mendorong harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) naik signifikan. Berdasarkan data yang dihimpun, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman September 2026 naik satu persen menjadi 85,58 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah WTI AS untuk Agustus 2026 ditutup menguat 1,3 persen ke posisi 80,38 dolar AS per barel.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Baru
Ketegangan meningkat setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) melancarkan dua putaran serangan yang menargetkan kemampuan militer Iran di sekitar Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur transit vital bagi sepertiga pasokan minyak dunia melalui kapal tanker. Komandan CENTCOM, Brad Cooper, menyatakan Iran telah menyerang tujuh kapal komersial dalam seminggu terakhir, yang mengakibatkan hampir selusin awak sipil tewas, hilang, atau terluka.
Laporan Wall Street Journal mengutip pejabat AS yang menyebut Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan operasi militer lebih lanjut. Opsi tersebut mencakup intensifikasi serangan udara hingga pengerahan pasukan darat untuk merebut pulau-pulau strategis Iran di dekat Selat Hormuz.
Apa Dampaknya ke Dompet Warga Lampung?
Bagi masyarakat Lampung, kenaikan harga minyak dunia bukan sekadar angka di pasar internasional. Kenaikan ini secara langsung mempengaruhi harga BBM di dalam negeri, terutama jika harga minyak bertahan di atas 80 dolar AS per barel dalam waktu lama. Harga BBM yang lebih tinggi akan mendorong kenaikan biaya transportasi dan logistik, yang ujungnya berimbas pada harga sembako dan bahan pokok di pasar tradisional.
Analis Goldman Sachs memperkirakan bahwa jika aliran minyak dari Teluk terus stagnan, harga Brent bisa menembus 110 dolar AS per barel pada kuartal IV 2026. Sebaliknya, jika konflik mereda dan pasokan pulih, harga berpotensi turun ke kisaran 60 dolar AS per barel.
Stok Minyak AS Justru Menipis
Di luar faktor geopolitik, data dari Administrasi Informasi Energi (EIA) AS menunjukkan persediaan minyak mentah komersial AS turun 1,7 juta barel pada pekan yang berakhir 10 Juli 2026. Angka ini sedikit lebih rendah dari perkiraan penurunan sebesar 1,8 juta barel. Total persediaan minyak mentah komersial AS saat ini berada pada level terendah dalam delapan tahun terakhir.
Jika ditambah dengan stok di Cadangan Minyak Strategis (SPR), total persediaan minyak AS turun 4,6 juta barel menjadi 726,2 juta barel. Angka tersebut merupakan level terendah sejak Mei 1984, menandakan bahwa cadangan energi negara adidaya itu sedang dalam kondisi paling kritis dalam lebih dari empat dekade.