BANDARLAMPUNG — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung mencatat sektor keuangan nonbank di daerah itu menunjukkan ketahanan yang kuat pada Maret 2026. Data ini dirilis Kepala OJK Lampung Otto Fitriandy dalam keterangan tertulis yang diterima di Bandarlampung, Selasa.
Kinerja paling menonjol datang dari sektor teknologi finansial. Outstanding piutang pembiayaan dari platform P2P lending tercatat sebesar Rp1,55 triliun. Angka ini mencerminkan tingginya permintaan pembiayaan alternatif di tengah masyarakat Lampung.
Aset Dana Pensiun dan LKM Ikut Tumbuh
Selain fintech, sektor dana pensiun juga membukukan posisi solid. Total aset yang dikelola mencapai Rp199,05 miliar, dengan nilai investasi sebesar Rp194,11 miliar. Industri Lembaga Keuangan Mikro (LKM) pun mencatatkan total aset Rp43,39 miliar dan pembiayaan Rp30,81 miliar.
Modal ventura menjadi sektor lain yang turut mendongkrak resiliensi. Perusahaan modal ventura di Lampung memiliki total aset Rp37,29 miliar dengan kredit yang diberikan mencapai Rp30,06 miliar. Sementara itu, Pegadaian membukukan total aset Rp14,03 miliar.
Investor Pasar Modal Lampung Tembus Rekor Baru
Minat investasi masyarakat Lampung di pasar modal terus menunjukkan tren peningkatan. Jumlah investor yang teridentifikasi melalui SID mencapai 203.565. Angka ini menjadi indikator literasi dan inklusi keuangan yang semakin meluas di provinsi tersebut.
"Dari total 203.565 SID di Provinsi Lampung, nilai transaksi pasar modal mencapai Rp3,22 triliun dan menunjukkan kinerja yang positif dalam mendukung sektor keuangan serta ekonomi daerah," kata Otto Fitriandy.
OJK Lampung menilai seluruh capaian ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah. Pertumbuhan di sektor keuangan nonbank diharapkan mampu mendorong akses pembiayaan yang lebih luas bagi pelaku UMKM dan masyarakat umum di Lampung.