BANDARLAMPUNG — Lampung, yang saat ini menempati peringkat keempat nasional dalam populasi peternakan, menghadapi ancaman serius: peternaknya semakin tua. OJK Lampung merespons dengan program Agri Future yang tidak hanya menawarkan bunga murah, tetapi juga mengubah cara peternak muda mengelola uang dan risiko.
Bunga 4 Persen, Lebih Murah dari KUR
Kepala OJK Provinsi Lampung Otto Fitriandy mengungkapkan bahwa suku bunga kredit dalam program Agri Future hanya 4 persen. Angka ini berada di bawah bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang biasa berkisar 6 persen.
"Menariknya, suku bunga yang diberikan berada di bawah bunga kredit usaha rakyat (KUR), yakni hanya sebesar 4 persen," ujar Otto di Bandarlampung, Kamis.
Peternak Tidak Perlu Bayar Angsuran Bulanan
Skema pembiayaan dirancang agar tidak membebani peternak pemula. Dana kredit dibekukan di bank dan hanya bisa dicairkan langsung ke feedlot untuk pembelian bibit sapi dan pakan. Peternak tidak dituntut membayar angsuran setiap bulan.
Pembayaran pokok dan bunga menggunakan sistem yarnen (bayar panen), yaitu dipotong langsung dari hasil penjualan sapi ke perusahaan mitra saat masa panen tiba. Sistem ini meminimalkan risiko penyalahgunaan dana.
Anak Usia 18 Tahun Sudah Lunas Kredit 20 Ekor Sapi
Otto mencontohkan keberhasilan proyek percontohan sebelumnya. "Ada anak muda usia 18-19 tahun yang mengambil kredit untuk 20 ekor sapi, dan saat ini statusnya sudah lunas," jelasnya.
OJK juga mendorong peternak muda usia sekitar 30 tahun, termasuk lulusan SMA, untuk terlibat. "Kami sudah meminta ketua komunitas peternak untuk merangkul Karang Taruna agar anak-anak muda ini tidak perlu urbanisasi ke kota, karena sukses juga bisa diraih di desa dengan menjadi peternak," tambah Otto.
Ekosistem dari Hulu ke Hilir, Plus Aplikasi Pengatur Keuangan
Melalui kemitraan dengan PT Great Giant Livestock, para peternak mendapatkan jaminan ekosistem yang jelas. Bibit sapi, pakan, hingga panduan perawatan menyeluruh disediakan oleh perusahaan (feedlot). Setelah masa panen, sapi akan langsung dibeli kembali oleh pihak yang sama.
Untuk mendukung pengelolaan profesional, OJK tengah menjajaki penerapan sistem Enterprise Resourcing Plan (ERP) bekerja sama dengan International Labour Organization (ILO). Aplikasi ini, yang sebelumnya sukses diterapkan untuk sapi perah di Malang, Jawa Timur, akan mengatur jadwal pemberian pakan, vaksinasi, hingga pengelolaan keuangan.
"Kita ajarkan mereka untuk memisahkan antara omset dan keuntungan, sehingga keuangan mereka lebih tertata untuk perputaran modal selanjutnya," kata Otto.
Ekspansi ke Lampung Selatan: Kombinasi Penggemukan dan Pembibitan
Setelah sukses di Lampung Timur, OJK berencana memperluas program ke Lampung Selatan dengan menggandeng PT Juang Jaya. Skema di sana akan berbeda: mengombinasikan penggemukan (fattening) dan pembibitan (breeding).
"Meski memiliki risiko yang lebih tinggi dan jangka waktu yang lebih panjang, skema pembibitan ini diharapkan dapat menjaga ketersediaan indukan sapi lokal agar tidak tergerus oleh sapi impor," jelas Otto. Untuk menjaga arus kas peternak, skema pembibitan tetap akan dikombinasikan dengan usaha penggemukan.