LAMPUNG — Data pasar mencatat, volume emisi obligasi berdenominasi dolar AS dan mata uang asing lainnya dari Asia Pasifik (tidak termasuk Jepang) mencapai level tertinggi baru. Pencapaian ini melampaui rekor sebelumnya yang tercipta ketika perusahaan-perusahaan China, terutama dari sektor properti dan teknologi, menjadi motor utama penerbitan global bonds.
Pendorong Utama: Korporasi Jepang Banjir Likuiditas
Para analis menilai pergeseran ini tidak lepas dari kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ) yang masih longgar. Suku bunga negatif di Jepang memaksa investor institusi dan korporasi untuk mencari imbal hasil (yield) lebih tinggi di luar negeri, termasuk melalui penerbitan obligasi offshore.
“Ini adalah fenomena ‘carry trade’ dalam skala korporasi. Perusahaan Jepang meminjam dalam yen dengan biaya sangat murah, lalu menerbitkan obligasi dalam dolar untuk mendanai ekspansi atau akuisisi di luar negeri,” ujar seorang kepala riset obligasi di sebuah sekuritas asing di Hong Kong, yang enggan disebutkan namanya.
Dari Properti China ke Industri Jepang
Era keemasan penerbitan obligasi offshore China, yang didominasi oleh raksasa properti seperti Evergrande dan Country Garden, praktis telah berakhir. Krisis likuiditas yang melanda sektor properti China sejak 2021 membuat investor global enggan membeli utang korporasi China. Sebaliknya, emiten Jepang dari sektor manufaktur, perbankan, dan asuransi kini menjadi primadona baru.
- Volume penerbitan: Kuartal I-2024 mencatatkan angka tertinggi dalam sejarah indeks obligasi offshore Asia.
- Komposisi penerbit: Pangsa pasar emiten Jepang melonjak signifikan, sementara porsi China menyusut drastis.
- Kupon rata-rata: Obligasi korporasi Jepang ditawarkan dengan kupon yang kompetitif, menarik minat investor dana pensiun dan manajer aset global.
Apa Artinya bagi Pasar Indonesia?
Pergeseran ini memberikan sinyal positif bagi pasar obligasi Indonesia. Dengan berkurangnya dominasi China, investor global kini memiliki diversifikasi risiko yang lebih baik. Obligasi korporasi Indonesia, terutama dari sektor sumber daya alam dan perbankan, berpotensi menarik minat investor yang mencari yield premium di atas obligasi Jepang.
Namun, persaingan juga semakin ketat. Emiten Indonesia harus menawarkan struktur obligasi yang kompetitif dan peringkat kredit yang solid untuk bisa bersaing dengan emiten Jepang yang dianggap lebih aman. Investor pun akan lebih selektif, mengingat ketidakpastian suku bunga global masih tinggi.