BANDAR LAMPUNG — Pelatihan ini digelar di dua lokasi, yaitu Saung Sekar dan Kolam Renang Universitas Lampung (Unila). Kegiatan ini merupakan komitmen gereja untuk membangun jemaat yang tidak hanya kuat secara iman, tetapi juga siap menjadi garda terdepan dalam pelayanan kemanusiaan saat bencana melanda.
Materi Pelatihan: Dari Teori Mitigasi hingga Simulasi Lapangan
Peserta mendapatkan pembekalan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandar Lampung. Materi mencakup mitigasi risiko bencana, koordinasi bantuan kemanusiaan, hingga langkah-langkah penyelamatan dasar di situasi krisis.
Ketua Majelis Jemaat GPIB Marturia Lampung, Pdt Deasy Elizabeth Watimena Kalalo, menekankan pentingnya ilmu ini. "Dengan pelatihan ini diharapkan peserta dapat memperoleh pemahaman dan pengetahuan yang luas dalam penanggulangan bencana, saling tolong menolong dalam situasi apapun baik antar jemaat maupun di tengah masyarakat," ujarnya saat membuka acara.
Simulasi Bencana untuk Membangun Budaya Siaga
Ketua panitia sekaligus Ketua Satgas PB, Charles Case, menjelaskan bahwa pelatihan tidak hanya berhenti pada teori. Peserta juga mengikuti simulasi penanganan bencana untuk memperkuat keterampilan di lapangan.
"Melalui pelatihan ini, kami ingin membangun budaya kesiapsiagaan di lingkungan jemaat. Bencana dapat terjadi kapan saja, sehingga diperlukan sumber daya manusia yang siap, peduli, dan mampu bertindak dengan baik," kata Charles.
Antusiasme peserta terlihat selama sesi simulasi. Mereka mempraktikkan teknik evakuasi dan pertolongan pertama yang diajarkan oleh instruktur PMI.
Peran Gereja di Luar Ibadah: Aktif dalam Ketangguhan Masyarakat
GPIB Jemaat Marturia Lampung menegaskan perannya bukan sekadar wadah pembinaan iman. Melalui pelatihan ini, gereja ingin menjadi komunitas yang aktif membangun ketangguhan masyarakat dan siap hadir memberikan pertolongan bagi sesama yang membutuhkan saat situasi darurat.
Ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini diharapkan menjadi bekal bagi jemaat untuk mendukung pelayanan kemanusiaan, baik di lingkungan internal gereja maupun masyarakat luas di Lampung.