BANDARLAMPUNG — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyoroti ancaman serius terhadap identitas budaya daerah di tengah derasnya arus teknologi dan media sosial. Dalam acara "Cawo Bubalah Lampung" di Balai Keratun, Jumat (22/5/2026), ia menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada nilai akademik semata.
Falsafah Piil Pesenggiri: Bukan Soal Kekerasan, tapi Martabat
Mirza meluruskan kesalahpahaman publik soal falsafah Piil Pesenggiri yang kerap diidentikkan dengan sikap keras. Menurutnya, nilai itu justru berbicara tentang menjaga martabat, rasa malu, dan semangat saling menolong antarsesama.
Ia menilai budaya Lampung telah menjadi perekat sosial yang ampuh, termasuk dalam menyatukan harmoni di tengah program transmigrasi. Saat ini, masyarakat asli Lampung hanya sekitar 13 persen dari total 9,5 juta penduduk.
"Seluruh masyarakat yang tinggal dan mencintai Lampung merupakan bagian dari identitas Lampung itu sendiri," ujar Mirza.
Keluarga Garda Terdepan, Sekolah Hanya Tempat Singgah
Gubernur menyebut persoalan degradasi karakter generasi muda tidak bisa diselesaikan hanya oleh sekolah. Ia mengingatkan bahwa anak-anak hanya menghabiskan beberapa jam di sekolah, sementara sebagian besar waktu mereka bersama keluarga.
"Keluarga memiliki peran besar dalam menanamkan nilai budaya Lampung," katanya. Mirza mendorong agar gerakan pelestarian budaya menjangkau hingga tingkat kecamatan, tidak hanya berhenti di level provinsi.
Budaya Bukan Cuma Identitas, tapi Juga Potensi Ekonomi
Di luar fungsi sosial, Gubernur Mirza melihat budaya Lampung memiliki nilai ekonomi yang belum digarap maksimal. Seruit, kain tapis, siger, dan tarian tradisional disebutnya sebagai daya tarik wisata unggulan yang bisa menggerakkan sektor ekonomi kreatif.
"Mari jadikan Hari Pendidikan Nasional sebagai pengingat bahwa anak-anak Lampung harus maju dalam pendidikan dan pemikirannya, tetapi tidak melupakan akar budayanya," tegasnya.
Lomba Video Bahasa Lampung: Menjaga Identitas Lewat Kreativitas Digital
Ketua Umum DPP Mighrul Lampung Bersatu (MLB) Dwita Ria Gunadi mengatakan kegiatan ini adalah wujud nyata kepedulian perempuan Lampung terhadap kelestarian bahasa daerah. Lomba "Cawo Bubalah" dan kursus daring bahasa Lampung merupakan implementasi dari Instruksi Gubernur Nomor 4 Tahun 2025 tentang program "Kamis Beradat".
"Kebangkitan saat ini dimulai dari kesadaran bahwa identitas, ilmu pengetahuan, dan budaya adalah kekuatan utama bangsa," ujar Dwita Ria.
Daftar Pemenang Lomba Video Bubalah Bahasa Lampung 2026
Kategori DPP/DPD Mighrul Lampung Bersatu:
- Juara 1: DPP Bidang Seni dan Olahraga
- Juara 2: DPD Kota Metro
- Juara 3: DPP Bidang Pendidikan
- Juara Harapan 1: DPD Kabupaten Tulang Bawang
- Juara Harapan 2: DPD Kabupaten Lampung Barat
- Juara Harapan 3: DPD Kabupaten Way Kanan
Kategori Umum:
- Juara 1: Tim Inti (Kota Bandar Lampung)
- Juara 2: Anisa Tri Oktavia dan kawan-kawan (Kota Bandar Lampung)
- Juara 3: Mutia dan kawan-kawan (Kabupaten Tulang Bawang)
- Juara Favorit: Tim Nyenyok (Kabupaten Way Kanan)
Penghargaan Khusus: Karya Motivasi Terbaik diraih Tim Jejamo Production (Kota Bandar Lampung).