BANDAR LAMPUNG — Sebanyak 35 akademisi dan peneliti dari dalam dan luar negeri memaparkan hasil riset serta praktik baik terkait ketahanan iklim dan pembangunan berkelanjutan dalam 4th International Symposium on Global Collaboration for Sustainability (ISGCS) 2026. Forum yang digelar di Holiday Inn Lampung Bukit Randu, Rabu (20/5/2026), itu menjadi ajang bagi UBL untuk memperkuat diplomasi akademik dalam menghadapi krisis iklim yang dampaknya kian nyata.
Rektor UBL, Prof. M. Yusuf S. Barusman, menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi wacana masa depan. Ia menyebut fenomena cuaca ekstrem yang terjadi belakangan, seperti intensitas hujan sangat tinggi di Lampung, adalah alarm yang tak bisa diabaikan.
"Kita telah menyaksikan berbagai fenomena cuaca ekstrem yang sebelumnya sulit dibayangkan. Bayangkan apabila kondisi seperti itu terjadi terus-menerus dalam jangka panjang," ujar Yusuf dalam sambutannya.
Mengapa Kampus Harus Jadi Penghubung?
Menurut Yusuf, dampak krisis iklim tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga ketahanan pangan, ekonomi, kesehatan masyarakat, hingga stabilitas sosial. Ia menilai solusi terhadap tantangan global ini tidak bisa dilakukan secara individual oleh satu sektor saja.
"Kita membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, masyarakat, NGO, dan organisasi internasional," tegasnya.
Yusuf menambahkan, universitas memiliki posisi strategis sebagai katalisator lahirnya inovasi dan kebijakan berbasis kolaborasi. Kampus, kata dia, tidak cukup hanya menjadi pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga harus menjadi jembatan antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.
Penandatanganan Piagam Kolaborasi dan Dukungan GIZ
Forum yang mengusung tema "Navigating Global Climate Challenges through Multi-Stakeholder Partnership" itu merupakan bagian dari penguatan implementasi proyek SDGs SSTC Phase II yang didukung Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Indonesia. Dalam acara tersebut, dilakukan penandatanganan piagam kolaborasi MSP KEM11LAU sebagai simbol penguatan kemitraan multipihak untuk pembangunan perkotaan berkelanjutan dan tangguh iklim.
Selain sesi panel yang menghadirkan pembicara nasional dan internasional, ISGCS 2026 juga menjadi ruang bagi para peneliti untuk mempresentasikan riset terbaru. Sebanyak 35 presenter memaparkan berbagai studi terkait pembangunan berkelanjutan, ketahanan iklim, dan penguatan kolaborasi lintas sektor.
Melalui forum ini, UBL menegaskan komitmennya dalam memperkuat jejaring global guna mendukung percepatan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.