BANDAR LAMPUNG — Di tengah gencarnya proyek pembangunan di ibu kota provinsi, pemandangan berbeda justru terlihat di wilayah perbatasan. Warga Dusun 2A, Desa Fajar Baru, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, bergotong royong memikul batang kelapa dan bambu untuk membangun jembatan darurat. Mereka berupaya keras menjaga agar jalur penghubung dengan Kelurahan Way Kandis, Kota Bandar Lampung, tetap bisa dilintasi.
Akses Vital yang Bergantung pada Batang Kelapa
Jembatan seadanya itu menjadi satu-satunya akses bagi warga yang hendak menyeberang dari Way Kandis menuju Fajar Baru, dan sebaliknya. Setiap hari, puluhan orang melintas di atas konstruksi darurat tersebut untuk beraktivitas, mulai dari bekerja, bersekolah, hingga mengurus lahan pertanian.
"Miris, di zaman pembangunan yang semakin maju, kami masih harus membangun jembatan sendiri dari batang kelapa," keluh seorang warga di lokasi kepada wartawan, pekan lalu.
Petani Lintas Wilayah Ikut Terdampak
Kepala Dusun 2A Desa Fajar Baru, Junaidi, menjelaskan bahwa jembatan darurat itu tidak hanya digunakan oleh warga setempat. Sejumlah petani asal Bandar Lampung yang memiliki lahan pertanian di Desa Fajar Baru dan sekitarnya juga menggantungkan aktivitas ekonomi mereka pada akses tersebut.
"Setiap hari masyarakat melintas di sini, baik dari Way Kandis menuju Fajar Baru maupun sebaliknya. Mau tidak mau, warga tetap harus menggunakan akses seadanya agar aktivitas tetap berjalan," jelas Junaidi.
Harapan Warga: Jembatan Permanen Bukan Jembatan Darurat
Warga mengaku belum merasakan pembangunan infrastruktur yang layak di kawasan perbatasan tersebut. Meskipun titik lokasi jembatan masuk dalam wilayah administrasi Kota Bandar Lampung, masyarakat menilai persoalan ini menjadi kebutuhan bersama karena menyangkut konektivitas dan roda perekonomian lintas wilayah.
"Harapan kami sederhana, ada jembatan permanen agar masyarakat tidak terus bergantung pada akses darurat seperti ini," tandas Junaidi.