LAMPUNG SELATAN — Kawasan pesisir Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, yang selama lima tahun terakhir kehilangan tutupan mangrove akibat abrasi, kini mulai dihijaukan kembali. Ribuan bibit mangrove jenis Rhizophora dan Avicennia ditanam di area seluas dua hektare oleh Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Lampung bersama seluruh cabang se-Lampung.
Ketua PKC PMII Lampung, M. Yusuf Kurniawan, menegaskan krisis iklim bukan lagi wacana. "Kader PMII harus hadir di ruang-ruang persoalan rakyat. Krisis iklim adalah persoalan nyata di pesisir Lampung Selatan. Maka kami jawab dengan aksi nyata di lapangan. Ini amanah organisasi dan amanah agama," ujarnya di sela kegiatan.
Mengapa Pematang Pasir Jadi Lokasi Penanaman?
Wilayah ini dipilih bukan tanpa alasan. Data di lapangan menunjukkan hilangnya mangrove secara masif dalam setengah dekade terakhir telah memicu intrusi air laut, menurunkan hasil tangkapan ikan, dan membuat permukiman warga rentan terhadap gelombang pasang. Ketua Pelaksana Kegiatan, M. Munif Jazuli, menyebut sejak awal pihaknya melibatkan desa dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Lampung agar ada tanggung jawab bersama dalam perawatan.
"Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti pada seremoni. Sejak awal kami libatkan desa dan dinas agar ada tanggung jawab bersama dalam perawatan pasca tanam. Ini kerja kader, alumni, pemerintah, dan warga. Tanpa itu, 5.000 bibit ini tidak akan bertahan," kata Munif.
Kolaborasi Lintas Elemen dan Rencana Keberlanjutan
Kegiatan ini melibatkan alumni PMII, Pemerintah Desa Pematang Pasir, kelompok nelayan, serta DLH Provinsi Lampung yang menyediakan bibit dan pendampingan teknis. Tidak berhenti pada penanaman, tiga langkah tindak lanjut telah disepakati: monitoring bulanan selama 12 bulan pertama, pembentukan Kelompok Kader Peduli Lingkungan di tingkat desa, serta edukasi lingkungan bagi siswa SD dan SMP setempat.
Berdasarkan data DLH Provinsi Lampung, satu pohon mangrove dewasa mampu menyerap 10-12 kilogram CO2 per tahun. Dengan 5.000 bibit yang ditanam, potensi serapan karbon diperkirakan mencapai 55-60 ton CO2 per tahun setelah lima hingga tujuh tahun pertumbuhan. PKC PMII Lampung berkomitmen melanjutkan program serupa di wilayah pesisir Lampung lainnya pada 2026.
Nilai Islam dan Ekologi dalam Satu Gerakan
Aksi ini diusung dengan tema "Habluminannas, Habluminalalam, Habluminallah" sebagai kerangka ideologis. Gotong royong lintas elemen menegaskan bahwa gerakan lingkungan tidak bisa dijalankan sendiri. PMII hadir sebagai jembatan yang menyatukan kader, alumni, pemerintah, dan masyarakat dalam satu tujuan: menjaga ruang hidup bersama. Penanaman mangrove juga dimaknai sebagai bentuk shodaqoh oksigen dan ibadah sosial yang pahalanya terus mengalir selama mangrove tumbuh dan memberi manfaat bagi alam serta manusia.