LAMPUNG — Bank Indonesia (BI) merilis hasil survei terbaru yang menunjukkan keyakinan konsumen terhadap ekonomi menguat pada Agustus 2026. Kenaikan indeks ini masih menempatkan optimisme masyarakat di zona positif.
Dalam survei tersebut, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat 118,5, naik dari posisi 116,8 pada Juli 2026. Angka ini merupakan hasil gabungan dari penilaian responden terhadap kondisi perekonomian saat ini dan ekspektasi enam bulan ke depan.
Kenaikan IKK disumbang oleh perbaikan pada dua komponen utamanya. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) naik ke 109,4 dari sebelumnya 107,9, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) meningkat ke 127,6 dari 125,7.
Perbaikan persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini terutama berasal dari penilaian masyarakat atas ketersediaan lapangan kerja dan rencana pembelian barang tahan lama. Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja naik ke 104,1 dari 101,1, sedangkan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama meningkat ke 106,1 dari 104,1. Indeks Penghasilan Saat Ini juga masih bertahan di level optimistis pada angka 118.
Jika diurai berdasarkan profil responden, tingkat optimisme tertinggi berasal dari kelompok dengan pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan, yang mencatatkan IKK sebesar 123,9. Sementara itu, berdasarkan kategori usia, kelompok 20-30 tahun menjadi yang paling optimistis dengan IKK mencapai 123,3.
Dari sisi wilayah, peningkatan keyakinan konsumen terdalam terjadi di Mataram, Bandung, dan Medan. Sebaliknya, penurunan optimisme paling signifikan tercatat di Padang, Surabaya, dan Banten.
Optimisme yang meningkat turut mengubah alokasi pendapatan rumah tangga. Rasio konsumsi terhadap pendapatan naik menjadi 74,2 persen pada Agustus 2026, dibandingkan 72,7 persen pada bulan sebelumnya. Sebaliknya, porsi pendapatan yang ditabung turun ke 15,8 persen dari 16,8 persen, sementara rasio pembayaran cicilan relatif stabil di level 10 persen.
Kenaikan porsi belanja ini menjadi sinyal awal bahwa keyakinan konsumen mulai bertransformasi menjadi aktivitas belanja riil. Mengingat konsumsi rumah tangga merupakan penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional, pergeseran perilaku ini bisa menjadi indikator penguatan daya beli masyarakat pada kuartal berikutnya.