Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menginstruksikan warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan guna meminimalkan paparan abu vulkanik sisa erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Imbauan ini dikeluarkan pada Minggu menyusul masih tersebarnya material abu yang terbawa angin ke arah Barat Daya Laut.
BANDARLAMPUNG — Pemerintah Provinsi Lampung meminta warga untuk tidak panik namun tetap waspada terhadap dampak lanjutan erupsi Gunung Anak Krakatau. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa sebaran abu vulkanik masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan seiring pola angin yang mengarah ke Barat Daya Laut.
"Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, namun tetap meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti informasi resmi dari BPBD Lampung, Pusdalop serta pihak berwenang lainnya," ujar Rahmat di Bandarlampung, Minggu.
Bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, gubernur mewajibkan penggunaan masker atau pelindung pernapasan. Instruksi ini menyusul potensi gangguan kesehatan akibat menghirup partikel abu halus yang beterbangan.
Selain perlindungan diri, Rahmat meminta masyarakat menutup rapat pintu, jendela, ventilasi, serta celah-celah lain yang memungkinkan abu masuk ke dalam rumah. Langkah sederhana ini dinilai efektif menjaga kualitas udara di dalam ruangan tetap bersih.
Gubernur mengingatkan agar warga yang mengalami keluhan kesehatan akibat paparan abu vulkanik segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Penanganan dini dianggap penting untuk mencegah komplikasi pernapasan yang lebih serius.
"Kami sudah meminta Pusdalop, BPBD dan pihak terkait untuk melakukan pembaharuan data berkala setiap dua jam terkait keadaan terkini Gunung Anak Krakatau supaya langkah mitigasi serta antisipasi dampaknya bisa dilakukan," tambahnya.
Pembaruan data setiap dua jam tersebut menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam menentukan langkah antisipasi selanjutnya. Masyarakat diminta aktif memantau kanal resmi BPBD Lampung dan Pusdalop untuk mendapatkan informasi akurat, alih-alih mempercayai kabar yang tidak jelas sumbernya.