LAMPUNG — Pergeseran peta pasar mobil ramah lingkungan di Indonesia mulai nyata. Kalau dua tahun lalu HEV masih menjadi primadona karena pilihan BEV terbatas dan harganya selangit, kini posisinya berbalik. Agresivitas merek China menjual mobil listrik murah menjadi pemicu utama perubahan ini.
Kehadiran BYD sejak awal 2024 mengubah segalanya. Merek asal China itu langsung tancap gas dengan model M6 dan Atto 1 yang banderolnya bersaing ketat dengan mobil hybrid Jepang. Wuling dan Hyundai yang lebih dulu bermain, ikut menikmati efek bola salju ini.
Hasilnya, total penjualan BEV nasional mencapai 83.758 unit. Angka ini melesat 88,6 persen jika dibandingkan Januari–Juli 2025. Sebagian besar kontributor datang dari pabrikan China: BYD, Geely, grup Chery, sampai Wuling, yang kini ramai-ramai melempar model entry level ke pasar.
Meski kalah laju, pasar hybrid belum runtuh. Pertumbuhan 42,9 persen tetap menunjukkan permintaan yang sehat, terutama dari konsumen yang belum siap transisi penuh ke listrik. Namun cerita di balik angka itu menarik: Toyota justru kini bertumpu pada satu model.
Kijang Innova Zenix HEV menjadi penyumbang terbesar penjualan hybrid Toyota. Sementara model Reborn yang sebelumnya diandalkan mengalami penurunan drastis setelah harga bahan bakarnya naik signifikan. Kondisi ini membuat Zenix menjelma sebagai tulang punggung lini elektrifikasi Toyota di Indonesia.
Segmen plug-in hybrid (PHEV) memang masih yang paling kecil, dengan catatan 6.988 unit hingga Juli 2026. Tapi pertumbuhannya paling spektakuler — melonjak dari 2.088 unit pada periode yang sama tahun 2025. Artinya, minat konsumen terhadap teknologi ini mulai terbentuk.
Masalah utama PHEV selama ini ada di harga. Mayoritas model dibanderol di atas Rp 500 juta, bahkan ada yang menembus Rp 1 miliar. BYD mencoba meruntuhkan tembok itu lewat M6 DM yang langsung merebut posisi teratas dari Chery Tiggo 8 CSH yang sebelumnya memimpin.
Untuk kategori mobil listrik murni, Jaecoo J5 EV masih memegang gelar terlaris. Namun posisinya mulai terancam. BYD Atto 1 sempat ambrol di Mei dengan penjualan di bawah 30 unit, lalu bangkit tajam ke 1.000 unit sebulan kemudian dan mencatat 4.000 unit di Juli.
Kalau performa ini bertahan sampai akhir tahun, bukan tidak mungkin Atto 1 merebut tahta Jaecoo. Tren ini juga sinyal kuat bahwa dominasi hybrid di era awal mobil ramah lingkungan Indonesia sudah berakhir, digantikan persaingan sengit antarmerek listrik China yang menawarkan harga semakin terjangkau.