LAMPUNG — Laporan terbaru dari pengamat teknologi DigitalChatStation mengungkap pergeseran besar dalam struktur biaya produksi smartphone. Komponen memori, yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai bagian minor dari bill of materials (BOM), kini resmi menjadi komponen termahal—menggeser posisi chipset yang selama ini memegang rekor tersebut.
Kondisi ini bukan sekadar catatan industri. Dampaknya sudah mulai terasa di pasar: produsen dipaksa menaikkan harga jual atau memangkas spesifikasi demi menjaga margin keuntungan.
DigitalChatStation mencatat, paket kombinasi RAM 12GB dan ROM 256GB saat ini dibanderol sekitar 327 dolar AS (sekitar Rp5,8 juta). Angka ini naik 252 dolar AS dibanding periode yang sama tahun lalu, yang hanya berada di kisaran 75 dolar AS.
Sebagai perbandingan, chipset flagship generasi terbaru hanya naik 74 dolar AS dari posisi sebelumnya di angka 223 dolar AS menjadi sekitar 297 dolar AS. Artinya, selisih biaya antara memori dan prosesor kini hampir menyentuh angka 30 dolar AS.
"Komponen memori kini menjelma menjadi penyumbang beban biaya terbesar dalam daftar bahan baku smartphone," ungkap DigitalChatStation.
Data pemantauan harga komponen dari Counterpoint Research menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Harga memori smartphone naik lebih dari 80 persen pada kuartal kedua dibandingkan kuartal sebelumnya, dan tren ini diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat.
Setiap kelas harga menghadapi tekanan berbeda, namun semuanya terkena imbas:
Segmen mid-range menjadi area yang paling menarik untuk diamati. Dengan memori yang menguasai hampir separuh biaya produksi, produsen dihadapkan pada dua pilihan: menaikkan harga jual atau mengurangi spesifikasi lain seperti chipset dan sistem kamera.
Konsekuensinya, smartphone kelas menengah yang selama ini dikenal dengan rasio price-to-performance (P/P) menarik diprediksi kehilangan daya tariknya. Konsumen yang terbiasa mendapatkan chipset kencang dan kamera mumpuni di harga Rp6 jutaan mungkin harus menyesuaikan ekspektasi.
Gelombang kenaikan harga rilis (MSRP) sebenarnya sudah mulai terlihat di lini flagship berbagai merek. Meski belum ada angka pasti kapan kenaikan ini merata ke pasar Indonesia, tekanan biaya yang terus berlanjut membuat produsen tidak punya banyak ruang untuk menyerap sendiri pembengkakan tersebut.
Bagi konsumen yang sedang menimbang pembelian smartphone baru, kondisi ini layak menjadi pertimbangan. Harga komponen yang belum menunjukkan tanda-tanda turun berarti keputusan menunda pembelian justru bisa berujung pada harga yang lebih mahal di kemudian hari.