LAMPUNG — Perbedaan angka konsumsi BBM antara Consumer Reports (CR) dan Environmental Protection Agency (EPA) memang sudah rahasia umum. Dua lembaga independen ini punya pendekatan yang bertolak belakang dalam menguji efisiensi bahan bakar. CR mengukur langsung konsumsi bensin di jalan raya dan sirkuit, sementara EPA lebih banyak mengandalkan laporan pabrikan yang diverifikasi di laboratorium.
CR memulai pengujian dengan menyambungkan flow meter presisi ke sistem bahan bakar kendaraan. Mobil kemudian diuji dalam dua skenario berbeda. Skenario pertama dilakukan di jalan tol umum dengan kecepatan konstan 65 mph (sekitar 105 km/jam), melewati rute yang sama dari dua arah berlawanan untuk mengkompensasi faktor kemiringan jalan dan arah angin.
Skenario kedua mensimulasikan kondisi stop-and-go khas perkotaan dan suburban. CR melakukan tes terpisah untuk akselerasi, pengereman, dan idling. Hasil gabungan dari kedua skenario inilah yang menjadi angka Overall Mileage CR.
EPA justru mengandalkan pengujian di atas dynamometer (alat pengukur tenaga statis). Menurut Title 40 Code of Federal Regulations, kendaraan bahkan bisa diuji dalam mode dua roda, di mana satu set roda penggerak boleh dilepas secara fisik jika diperlukan. Pengujian dilakukan dengan menjaga kecepatan tertentu dalam skenario kota, jalan tol, dan kecepatan tinggi—semuanya tanpa menyalakan sistem AC.
Yang paling krusial: EPA tidak mengukur bensin yang dikonsumsi secara langsung. Angka efisiensi dihitung berdasarkan jumlah karbon yang terdeteksi di gas buang kendaraan. Padahal, pengujian di dynamometer tidak memperhitungkan hambatan angin, kondisi permukaan jalan, atau perilaku berkendara riil.
Perbedaan metodologi ini menghasilkan gap yang signifikan. Ambil contoh Toyota Prius XLE 2026 versi all-wheel drive. EPA menilai mobil ini hemat dengan angka 49 mpg kota/50 mpg jalan tol/49 mpg kombinasi. Namun CR mencatat angka yang jauh berbeda: hanya 40 mpg untuk dalam kota—turun 9 mpg dari klaim EPA—meski unggul di jalan tol dengan 59 mpg. Angka kombinasi CR untuk Prius adalah 51 mpg.
Pada Toyota Highlander Hybrid 2026, CR mencatat 27 mpg kota/41 mpg jalan tol/35 mpg kombinasi. EPA justru memberi angka seragam 35 mpg di semua kategori. Honda CR-V Hybrid juga menunjukkan pola serupa: CR mencatat 31/38/35, sementara EPA menyebut 43/36/40.
Di segmen pikap, Ford Maverick menempati posisi teratas daftar pikap paling irit versi CR dengan catatan 33/39/37. EPA menilai lebih tinggi di dalam kota (42 mpg) tapi lebih rendah di jalan tol (35 mpg). Bahkan Chevrolet Silverado 1500 diesel—salah satu dari sedikit pikap diesel di Amerika—hanya mampu mencatat 16/32/23 menurut CR, sementara EPA menyebut 23/28/25.
Hasil CR umumnya dianggap lebih mendekati kondisi berkendara sebenarnya karena mengukur konsumsi bahan bakar langsung di jalan. Metode EPA yang serba laboratorium cenderung menghasilkan angka yang lebih optimistis, terutama untuk pengujian dalam kota. Bagi konsumen Indonesia yang terbiasa menghadapi kemacetan, hasil uji CR bisa menjadi gambaran yang lebih jujur tentang konsumsi BBM harian dibandingkan klaim pabrikan yang biasanya mengacu pada standar serupa EPA.