Dari ajang Microsoft Build hingga Computex 2026, rangkaian pengumuman yang muncul menunjukkan satu hal: Microsoft dan para pembuat laptop tidak lagi malu-malu memamerkan produk Windows mereka. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ekosistem ini memiliki jawaban nyata atas dominasi Apple Silicon — dan itu datang dari berbagai lini harga sekaligus.
NVIDIA menjadi salah satu bintang pekan ini lewat peluncuran superchip RTX Spark, chip Windows on Arm pertama yang disebut-sebut mampu menyaingi performa tertinggi Apple Silicon. Bukan cuma soal kecepatan, chip ini juga membuka jalan bagi laptop Windows kelas atas yang tampil lebih modern ketimbang MacBook Pro generasi terbaru.
HP, Dell, Lenovo, dan Microsoft sendiri langsung mengonfirmasi akan merilis jajaran laptop berbasis RTX Spark dalam waktu dekat. Dari bocoran yang beredar, perangkat-perangkat ini tampil dengan build quality dan desain yang setara — bahkan unggul — dari lini premium Apple.
Yang lebih menarik justru terjadi di segmen menengah. Dell dan Acer memperkenalkan laptop pertama yang menjadi pesaing serius MacBook Neo, ditenagai chip Intel Wildcat Lake. Performa dan baterai disebut memadai, tapi yang membuat gebrakan adalah harganya.
Dell XPS 13 dan Acer Swift Air 14, misalnya, dibanderol mulai $699 (sekitar Rp 11,2 juta). Bahkan untuk pelajar, harga Dell XPS 13 bisa turun hingga $599 (Rp 9,6 juta). "Ini pertama kalinya dalam sejarah saya melihat produk se-premium XPS 13 bisa dibeli dengan harga semurah itu," tulis jurnalis yang menguji langsung kedua perangkat tersebut. Menurutnya, pada harga itu, MacBook Air pun terlihat seperti tawaran yang buruk.
Di balik layar, Microsoft juga bekerja keras menghapus reputasi buruk sistem operasinya. Lewat inisiatif bernama Windows K2, perusahaan memperkenalkan fitur Low Latency Profile yang mulai digulirkan untuk meningkatkan responsivitas sistem secara keseluruhan. Microsoft juga memastikan Windows 11 berjalan mulus di perangkat dengan RAM 8GB — sebuah pengakuan bahwa selama ini performa di spek rendah menjadi salah satu kelemahan terbesar.
"Kami bekerja keras agar 'ini Windows' bukan lagi jadi keluhan yang bisa dilontarkan orang saat membahas perangkat ini," tulis pengamat yang sama, mengutip pernyataan dari tim pengembangan.
Microsoft juga memperkenalkan Surface Laptop Ultra dan Surface Dev Box yang ditenagai RTX Spark. Kali ini, pendekatan Surface berbeda. Tidak ada lagi form factor eksperimental atau perangkat untuk ceruk pasar. Surface Laptop Ultra adalah laptop workstation murni yang secara langsung menyasar pengguna yang selama ini setia pada MacBook Pro.
Pavan Davuluri, pimpinan divisi Windows, menegaskan ambisi barunya: "Apakah Anda membangun aplikasi, menerapkan model AI, atau bereksperimen dengan agen, tujuan kami sama: menjadikan Windows tempat terbaik untuk membangun — hari ini dan di masa depan."
Ini adalah sinyal paling jelas bahwa Microsoft tidak lagi ingin menjadi pemain nomor dua di segmen premium. Setelah bertahun-tahun dikuasai Apple, ekosistem Windows akhirnya memiliki produk dan alasan yang cukup untuk membuat pengguna beralih — atau setidaknya, kembali melirik.