LAMPUNG — Berdasarkan data Bloomberg pukul 9.45 WIB, rupiah dibuka di level Rp17.489 per dolar AS sebelum terus merosot. Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi seiring penguatan dolar AS di kawasan Asia. Yuan China, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan won Korea Selatan semuanya terdepresiasi terhadap greenback.
Pelemahan rupiah membuat biaya impor bahan baku dan barang jadi membengkak. Sektor yang paling rentan terkena dampak adalah makanan-minuman, elektronik, dan otomotif yang bergantung pada komponen impor. Kenaikan harga ini pada akhirnya akan ditanggung konsumen di pasar domestik.
"Investor menantikan data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis siang ini," ujar Lukman Leong, analis mata uang Doo Financial Futures, dalam keterangan resmi. Data tersebut akan menjadi indikator awal seberapa parah tekanan daya beli masyarakat.
Tiga faktor utama menekan rupiah hari ini. Pertama, meredupnya harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran memicu ketidakpastian geopolitik global. Kedua, harga minyak mentah dunia yang masih tinggi memperburuk sentimen terhadap mata uang negara berkembang. Ketiga, pengumuman MSCI yang diperkirakan tidak memberikan kabar positif bagi indeks saham domestik (IHSG) ikut menambah beban.
Lukman menambahkan, "Pengumuman MSCI hari ini diperkirakan tidak akan memberikan berita baik pada IHSG, dan akan ikut menekan rupiah."
Analis memproyeksikan rupiah masih akan bergerak volatil dengan rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Level psikologis Rp17.500 kini telah ditembus, membuka peluang pelemahan lebih lanjut jika tidak ada intervensi signifikan dari Bank Indonesia.
Investasi mengandung risiko. Pelaku bisnis dan investor disarankan melakukan lindung nilai (hedging) untuk mengantisipasi fluktuasi kurs yang tajam dalam jangka pendek.
Masyarakat bisa mulai beralih ke produk investasi berbasis dolar AS atau emas sebagai lindung nilai. Bagi pelaku bisnis, mempercepat ekspor dan menunda pembayaran impor dalam valas bisa menjadi strategi jangka pendek yang efektif.
Bank Indonesia biasanya melakukan intervensi ganda di pasar spot dan pasar obligasi untuk menahan laju pelemahan rupiah. Namun, efektivitas intervensi ini sangat tergantung pada cadangan devisa dan sentimen global. Belum ada pernyataan resmi dari BI terkait pergerakan hari ini.