LAMPUNG — Otoritas persaingan Inggris (CMA) mengusulkan aturan yang memaksa Apple membuka akses tap-to-pay iPhone ke perusahaan fintech lain dengan biaya lebih rendah. Usulan ini muncul karena hingga kini belum ada pesaing Apple Pay di Inggris, berbeda dengan Uni Eropa yang sudah punya beberapa alternatif. Apple menolak keras dengan alasan privasi dan keamanan.
Competition and Markets Authority (CMA) menilai biaya dan aturan yang ditetapkan Apple menghambat fintech serta pelaku usaha Inggris untuk berinovasi dan berkembang. Regulator mengklaim perubahan yang diusulkan bakal menurunkan biaya akses secara signifikan sehingga lebih banyak bisnis bisa bersaing.
CMA menyoroti absennya pesaing Apple Pay di Inggris. Di Uni Eropa, sejumlah alternatif sudah beroperasi karena aturan kawasan mewajibkan Apple membuka teknologi pembayaran nirkontak ke pihak ketiga.
Aturan Secure Element Jadi Biang Kerok
Apple sebenarnya sudah mengizinkan perusahaan pihak ketiga menawarkan alternatif Apple Pay di Inggris sejak 2024. Namun ada syarat ketat: mereka wajib memakai Secure Element milik Apple, komponen yang mengenkripsi data kartu pembayaran saat transaksi.
Di Uni Eropa, aturan kawasan mewajibkan Apple mengizinkan penggunaan host card emulation (HCE) secara gratis jika perusahaan menghendakinya. HCE memungkinkan aplikasi pembayaran meniru fungsi kartu tanpa bergantung pada chip keamanan Apple.
CMA ingin teknologi serupa tersedia di Inggris dan menegaskan tidak melihat potensi masalah keamanan bawaan dari penerapan HCE. Regulator juga menegaskan tidak hendak mendikte harga atau syarat yang harus ditetapkan Apple.
CMA hanya mengusulkan prinsip penentuan tarif, dengan ekspektasi biaya akses jauh lebih rendah dari tarif Apple saat ini, tapi tetap memberi imbalan wajar bagi Apple.
Keluhan Industri Fintech
CEO sekaligus co-founder Fidesmo, Mattias Eld, menyambut langkah CMA. Fidesmo adalah perusahaan penyedia teknologi pembayaran nirkontak.
"Membeli iPhone seharusnya tidak berarti menyerahkan kunci dompet Anda ke Apple. Konsumen berhak memilih cara membayar, dan bank berhak memilih mitra kerja," kata Eld.
Eld menuduh Apple selama lebih dari satu dekade mematangkan dominasi tap-to-pay lewat pengekangan kompetitor secara sengaja. Menurutnya, posisi itu membuat Apple bisa membebankan biaya transaksi tinggi ke bank, dengan ancaman dikeluarkan dari pasar yang luas.
Bantahan Apple
Apple menolak usulan CMA. Kepada Reuters, perusahaan Cupertino itu menyatakan tidak setuju bila CMA mewajibkan Apple mengadopsi pendekatan dengan perlindungan privasi dan keamanan lebih rendah.
"Kami akan terus berkomunikasi secara konstruktif untuk mencapai hasil yang terbaik bagi pengguna kami," ujar Apple seperti dikutip Reuters.
Penolakan Apple berakar pada obsesi perusahaan terhadap kontrol pengalaman pengguna. Bila akses pembayaran dibuka ke pihak ketiga dan terjadi kebocoran data atau penipuan, Apple khawatir citranya ikut terdampak.
Dampak ke Pengguna iPhone di Inggris
Jika CMA berhasil memaksa perubahan, pengguna iPhone di Inggris bisa memilih aplikasi pembayaran nirkontak selain Apple Pay. Bank dan penyedia dompet digital juga berpeluang menawarkan layanan tap-to-pay langsung tanpa bergantung pada infrastruktur Apple.
Apple sudah lebih dulu dipaksa membuka taman berdinding pembayaran nirkontak di Uni Eropa. Inggris berpotensi menyusul, sehingga cara membayar dengan ponsel di negara itu bisa berubah signifikan.
Bagi pengguna Indonesia, aturan ini belum berdampak langsung karena Apple Pay belum beroperasi resmi di pasar lokal. Namun preseden Inggris dan Uni Eropa menjadi acuan bagaimana regulator lain bisa menekan Apple soal akses teknologi pembayaran.
Usulan CMA masih tahap konsultasi dan belum menjadi aturan final. Apple punya ruang untuk bernegosiasi sebelum keputusan diambil.