Kabar ini tentu bikin penggemar setia Kingdom Hearts di Indonesia bergidik—campuran antara antusias dan was-was. Pasalnya, serial ini dijanjikan akan "mereimajinasi petualangan ikonik dengan cerita yang benar-benar baru," namun keterlibatan Tetsuya Nomura selaku kreator orisinal franchise ini justru memicu tanda tanya besar.
Bagi yang belum familiar, Kingdom Hearts adalah seri game yang plotnya terkenal mustahil dipahami tanpa memainkan puluhan judul spin-off di berbagai konsol lawas. Ada banyak sekali detail dan lore yang saling terkait, dan itulah yang membuat waralaba ini begitu digemari sekaligus membingungkan.
Mickey Mouse Berkelahi dengan Bahamut, Mungkinkah?
Kekacauan naratif yang jadi ciri khas Kingdom Hearts memang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dalam satu momen klimaks, karakter pemain bisa mati, lalu tiba-tiba Mickey Mouse muncul dan menghabisi musuh dengan tongkat raksasa. Adegan-adegan semacam inilah yang membuat serial ini sangat menarik untuk ditonton, bahkan sebelum diumumkan menjadi anime.
Kekuatan visual dan aksi konyol yang "spektakuler" tersebut memang sudah lama dianggap punya potensi besar sebagai tontonan televisi. Kini, potensi itu akan diuji dalam format serial animasi yang disiapkan untuk dua platform sekaligus.
Keputusan Berani Disney di Tengah Tekanan Boikot
Pengumuman ini datang di tengah situasi yang tidak nyaman bagi Disney. Disney+ baru saja ditetapkan sebagai target prioritas boikot oleh gerakan BDS, yang memprotes peran berbagai korporasi dalam genosida yang sedang berlangsung terhadap warga Palestina di Israel. Keputusan untuk tetap meluncurkan proyek besar ini tentu akan kembali memantik perdebatan di kalangan penggemar.
Terlepas dari kontroversi politik tersebut, pertanyaan terbesar penggemar tetap satu: apakah serial ini akan menjelaskan alur cerita yang rumit itu dengan rapi? Jawaban singkatnya: hampir pasti tidak.
Nomura dan Kanon yang Tak Bisa Diganggu Gugat
Keterlibatan Tetsuya Nomura adalah kunci utama. Ini adalah orang yang sama yang sempat ragu mengizinkan Sora tampil di Super Smash Bros. karena khawatir hal itu akan mengganggu kanon cerita Kingdom Hearts. Jika dia segitunya menjaga integritas cerita di game, wajar jika penggemar berspekulasi serial anime ini akan tetap merujuk pada kekacauan lore yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Justru, menariknya, hal itu bisa menjadi nilai jual. Mengurai lautan detail yang tak berujung adalah setengah dari kesenangan mengikuti Kingdom Hearts. Jika serial ini benar-benar bersih dan mudah dicerna, mungkin justru akan kehilangan esensinya.
Sebelumnya, sempat ada upaya adaptasi serial TV Kingdom Hearts pada 2003 oleh Seth Kearsley yang akhirnya batal tayang. Kini dengan dukungan penuh Disney dan format anime, proyek ini punya peluang lebih besar untuk sampai ke layar kaca. Apakah hasilnya akan lebih baik dari upaya yang gagal itu? Belum ada yang tahu pasti. Tapi karena ini Kingdom Hearts, satu hal yang bisa dipastikan: hasilnya akan menarik untuk disaksikan.