BANDARLAMPUNG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandarlampung memanggil seluruh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna merapatkan barisan. Pertemuan yang digelar Kamis pekan lalu itu bertujuan memperkuat tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dari hulu ke hilir.
Apa yang Paling Dikhawatirkan dari Program MBG?
Kepala Dinkes Kota Bandarlampung, Muhtadi Arsyad Tumenggung, menegaskan bahwa SPPG adalah ujung tombak program. Ia mengingatkan bahwa MBG bukan sekadar membagikan makanan lalu selesai.
“Kami terus menekankan pentingnya penguatan tata kelola, pengawasan keamanan pangan, hingga peningkatan kualitas layanan kepada para penerima manfaat program MBG,” kata Muhtadi dalam keterangan yang diterima Antara.
Kekhawatiran terbesar adalah munculnya kasus keracunan massal. Oleh karena itu, pengawasan mutu pangan diperketat, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi ke tangan penerima.
Siapa Saja yang Menjadi Prioritas Penerima?
Dinkes memastikan kelompok rentan menjadi prioritas utama. Meski demikian, Muhtadi tidak merinci jumlah pasti penerima manfaat di Bandarlampung saat ini.
“Program MBG ini adalah program Presiden menuju Indonesia Emas 2045. Jadi, SPPG bukan hanya sekadar bagikan makanan selesai, tetapi keamanan pangan, hingga peningkatan kualitas layanan,” tegasnya.
Tantangan Apa Saja yang Masih Dihadapi?
Muhtadi membeberkan sejumlah kendala di lapangan. Mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pengelola, efisiensi distribusi, ketersediaan sarana dan prasarana, hingga konsistensi penerapan standar keamanan pangan.
Untuk mengatasinya, Dinkes menyiapkan sejumlah langkah:
- Memperkuat sistem monitoring terpadu.
- Meningkatkan kapasitas SDM SPPG melalui pelatihan.
- Memperketat pengawasan mutu pangan secara berkala.
- Memastikan kelompok rentan menjadi prioritas penerima manfaat.
Kapan Pengawasan Mulai Diperketat?
Langkah pengawasan sudah mulai diterapkan sejak pertemuan tersebut. Dinkes menargetkan tidak ada lagi celah yang bisa menyebabkan penyakit bawaan makanan (foodborne disease) di Kota Bandarlampung.
“Kami akan memperkuat sistem monitoring terpadu, meningkatkan kapasitas SDM SPPG, memperketat pengawasan mutu pangan, serta memastikan kelompok rentan menjadi prioritas utama penerima manfaat,” ujar Muhtadi.
Apa Dampak Program MBG bagi Generasi Mendatang?
Menurut Muhtadi, program ini merupakan investasi jangka panjang. Bukan hanya soal perut kenyang, tetapi menciptakan generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing.
Dengan tata kelola yang baik, MBG diharapkan menjadi fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Dinkes berkomitmen memastikan setiap piring yang sampai ke tangan warga benar-benar aman dan bergizi.