MENGGALA — Diskusi publik bertema dampak El Nino terhadap masa depan kedaulatan pangan itu dimulai pukul 09.00 WIB dan dihadiri Camat Menggala Sopiyanto, Lurah Menggala Selatan Heftina, tokoh masyarakat, serta pemuka agama. Peserta yang hadir mayoritas berprofesi sebagai petani dari sejumlah wilayah di Tulangbawang.
Narasumber yang tampil adalah Indra Permana Amurwaraharja dari Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan beserta jajarannya, dan Nanan Wisnaga dari Diskominfo. Keduanya membahas tantangan sektor pertanian di tengah perubahan iklim yang kian terasa di daerah itu.
Nanan Wisnaga menilai diskusi publik yang melibatkan petani secara langsung menjadi langkah nyata agar pemerintah selalu hadir di tengah masyarakat. Menurutnya, forum semacam ini menjadi ruang produktif untuk menghimpun pemikiran kritis dan merumuskan rekomendasi solutif.
Ia meminta peserta proaktif berdialog dengan para narasumber agar memperoleh informasi yang berguna untuk meningkatkan produktivitas. Pemerintah kabupaten, kata Nanan, membuka ruang seluas-luasnya untuk berkomunikasi dan berkolaborasi dengan seluruh lapisan masyarakat.
"Saya sangat mengapresiasi Kegiatan Diskusi Publik ini menjadi wadah menampung menyerap seluruh aspirasi petani, kami pemerintah tidak akan pernah diam, kami membuka ruang seluasnya untuk berkomunikasi, berkolaborasi yang baik dengan seluruh lapisan masyarakat, semoga diskusi hari ini berjalan sukses serta memberikan kontribusi nyata bagi isu pangan nasional," ujar Nanan.
Ketua JMSI Tulangbawang Suhirmansyah, penanggung jawab kegiatan, menyebut pangan sebagai kebutuhan dasar manusia yang menjadi fondasi utama pembangunan bangsa. Petani saat ini menghadapi ketidakpastian iklim global, dinamika ekonomi rantai pasok, serta tantangan alih fungsi lahan.
Menurut Suhirmansyah, kemarau berdampak signifikan pada sektor pertanian, terutama bagi petani di Tulangbawang yang mengalami penurunan curah hujan dan peningkatan suhu udara. Pergeseran musim hujan turut memicu berbagai permasalahan di bidang pertanian.
"Kemarau memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap sektor pertanian, terutama petani kita khususnya di tuba mengalami penurunan curah hujan, peningkatan suhu udara, serta pergeseran musim hujan, yang semuanya memicu berbagai permasalahan di bidang pertanian," kata Suhirmansyah.
Suhirmansyah menegaskan bahwa kedaulatan dan ketahanan pangan berkelanjutan hanya bisa diwujudkan lewat sinergi seluruh pemangku kepentingan. Mulai dari pelaku industri, petani, hingga masyarakat umum perlu terlibat dalam upaya tersebut.
JMSI Tulangbawang menyelenggarakan diskusi ini berkat dukungan penuh Pemkab Tulangbawang. Forum diposisikan sebagai ruang kolaborasi, pertukaran gagasan, dan perumusan rekomendasi strategis bagi pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesejahteraan petani di kabupaten itu.
"Kegiatan Diskusi Publik tentang Pangan ini diselenggarakan JMSI berkat dukungan penuh Pemkab Tulangbawang kegiatan ini sebagai ruang kolaborasi, pertukaran gagasan, serta perumusan rekomendasi strategis bagi seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesejahteraan petani khususnya dikabupaten Tulang Bawang," terang Suhirmansyah.
Rekomendasi dari forum ini diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dalam menyusun langkah antisipasi menghadapi kemarau panjang dan menjaga produksi pangan petani Tulangbawang.