LAMPUNG — BMKG meminta masyarakat dan pelaku industri digital mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang berstatus Waspada di empat provinsi. Meski fenomena El Nino sedang berada pada fase sangat kuat, pasokan uap air dari Samudra Hindia tetap memicu pertumbuhan awan hujan secara lokal di wilayah-wilayah tersebut.
Berdasarkan rilis resmi BMKG yang dikutip pada Selasa (25/8), berikut provinsi dengan potensi hujan sedang hingga lebat:
Untuk kategori Siaga (hujan lebat hingga sangat lebat) dan Awas (hujan ekstrem), BMKG menyatakan tidak ada wilayah yang masuk dalam status tersebut pada hari ini.
Selain hujan, BMKG juga mengeluarkan peringatan angin kencang yang berpotensi mengganggu jaringan internet dan distribusi logistik e-commerce di 14 provinsi. Gangguan infrastruktur akibat cuaca ekstrem kerap berdampak pada kualitas sinyal seluler dan keterlambatan pengiriman barang.
Wilayah yang masuk daftar angin kencang meliputi Banten, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Pegunungan, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.
Fenomena El Nino yang berada pada intensitas sangat kuat, disertai Indian Ocean Dipole (IOD) positif, membuat pasokan uap air ke wilayah Indonesia berkurang. BMKG mencatat sekitar 86,62 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah pada Dasarian III Agustus 2026.
Wilayah dengan curah hujan rendah meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra Selatan, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua Barat. Namun, potensi hujan lokal tetap terbuka lebar.
BMKG menjelaskan potensi hujan ini diperkuat oleh faktor dinamis atmosfer. Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan aktif di sebagian besar Sumatra, Selat Malaka, Laut Natuna, dan sebagian Kalimantan. Gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial juga terdeteksi aktif di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Pasifik utara Papua.
Keberadaan pusat tekanan rendah di Samudra Pasifik utara Papua dan sirkulasi siklonik di Selat Makassar menjadi pemicu utama. Kondisi ini menyebabkan massa udara berkumpul dan terangkat, meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan secara lokal meski musim kemarau sedang berlangsung.
Bagi pelaku bisnis digital, cuaca ekstrem seperti angin kencang berpotensi memicu pemadaman listrik bergilir di sejumlah daerah. Pengguna smartphone disarankan memperbarui aplikasi prakiraan cuaca dan mengaktifkan notifikasi peringatan dini dari BMKG.
Untuk sektor logistik dan e-commerce, disarankan memonitor jalur pengiriman di wilayah Sumatra dan Kalimantan Utara. Sementara itu, operator telekomunikasi biasanya menyiagakan genset cadangan di menara BTS untuk mengantisipasi gangguan pasokan listrik akibat cuaca buruk.