JAKARTA — Gelombang mutasi besar-besaran di tubuh Polri kembali bergulir. Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divhumas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, menyatakan bahwa rotasi ini merupakan dinamika organisasi yang lazim dilakukan.
"Mutasi dan promosi jabatan merupakan bagian dari dinamika organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme, kapasitas kepemimpinan, serta efektivitas pelaksanaan tugas Polri dalam memberikan pelayanan, perlindungan, dan pengayoman kepada masyarakat," ujar Brigjen Trunoyudo, Jumat (26/6/2026).
Total personel yang terkena mutasi mencapai 1.121 orang. Jumlah tersebut tersebar dalam tujuh Surat Telegram (ST) yang diterbitkan pada tanggal yang sama, 25 Juni 2026. Rinciannya sebagai berikut:
Dari total personel yang dimutasi, sebanyak 42 di antaranya adalah pejabat utama dan Kapolres di Polda Jawa Timur. Berikut beberapa nama yang masuk dalam daftar mutasi tersebut:
Mutasi ini tidak hanya terjadi di level Kapolres, tetapi juga menyasar pejabat utama seperti Dirlantas, Karoops, dan Kabidpengsos di lingkungan Polda Jatim maupun Lemdiklat Polri.
Brigjen Trunoyudo menegaskan bahwa mutasi adalah hal yang wajar dalam organisasi sebesar Polri. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk pembinaan karier sekaligus upaya meningkatkan kinerja institusi.
"Ini adalah bagian dari dinamika organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme, kapasitas kepemimpinan, serta efektivitas pelaksanaan tugas Polri," tegasnya.
Dengan rotasi ini, diharapkan pelayanan, perlindungan, dan pengayoman kepada masyarakat bisa lebih optimal. Beberapa pejabat yang dimutasi juga mendapatkan promosi jabatan atau penempatan di posisi strategis baru.
Meski mutasi ini bersifat internal, dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Pergantian Kapolres di sejumlah daerah seperti Malang, Kediri, Probolinggo, Sampang, Jember, dan Lamongan berarti akan ada wajah baru di pucuk pimpinan kepolisian setempat.
Warga di daerah-daerah tersebut bisa menantikan pendekatan kepemimpinan yang segar, terutama dalam penanganan kriminalitas dan pelayanan publik. Namun, masa transisi biasanya membutuhkan waktu adaptasi bagi jajaran di bawahnya.
Ya, beberapa pejabat justru mendapat promosi atau jabatan yang lebih strategis. Contohnya Kombes Pol Iwan Saktadi yang naik jabatan menjadi Wakapolda Banten, dan Kombes Pol Putu Kholis Aryana yang dipindahkan ke Polda Metro Jaya sebagai Kapolres Metro Bekasi Kota.
Di sisi lain, ada juga pejabat yang dialihkan ke fungsi pendidikan, seperti Kombes Pol Nurhandono yang menjadi Widyaiswara di Sespim Lemdiklat Polri, menandakan adanya penyegaran di bidang akademik kepolisian.