LAMPUNG — Desakan itu disampaikan Iriawan dalam keterangannya kepada Antara, Jumat (26/6/2026). Ia menilai posisi harga minyak mentah dunia yang sudah turun cukup signifikan menjadi momentum yang tepat bagi Pertamina untuk menyesuaikan harga jual di tingkat ritel.
"Kami dari jajaran dewan komisaris mendorong direksi, manajemen (Pertamina) untuk segera menyesuaikan dengan harga minyak (mentah) dunia yang sudah mulai turun," ujar Iriawan.
Per pagi ini, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), yang kerap menjadi acuan, berada di level US$ 71,53 per barel. Sementara patokan global, minyak Brent, diperdagangkan di US$ 74,83 per barel. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata harga dalam beberapa bulan sebelumnya yang sempat menyentuh level di atas US$ 80 per barel.
Di sisi lain, harga BBM nonsubsidi Pertamina saat ini masih bertahan di level tinggi. Harga Pertamax (RON 92) tercatat Rp 16.250 per liter, naik signifikan dari posisi sebelumnya Rp 12.300 per liter. Demikian pula Pertamax Green 95 (RON 95) yang kini dibanderol Rp 17.000 per liter, naik dari Rp 12.900 per liter.
Sementara itu, harga Pertamax Turbo (RON 98) masih bertahan di Rp 20.750 per liter, Dexlite (CN 51) di Rp 23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) di Rp 24.800 per liter.
Meski harga minyak mentah sudah turun, Iriawan menegaskan bahwa penurunan harga BBM tidak bisa dilakukan secara instan. Ada mekanisme evaluasi berkala yang harus dilalui. Menurutnya, formula ini justru menjadi pelindung bagi konsumen agar tidak terombang-ambing oleh fluktuasi harga harian yang ekstrem.
"Ada prosedurnya. Karena minyak yang sekarang ini prosesnya dari bulan yang lalu, dengan harga yang lalu. Kalau turunnya kemarin, berapa hari yang lalu, kita akan menyesuaikan nanti," jelas Iriawan.
Ia mengakui, timnya akan segera berdiskusi dengan direksi Pertamina dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mematangkan skenario penurunan. "Turunnya berapa (rupiah), nanti kita lihat ke depan. Tapi insya Allah, doakan, mudah-mudahan bisa turun sesuai dengan harapan masyarakat," tambahnya.
Jika skenario ini berjalan mulus, penurunan harga BBM nonsubsidi bisa mulai dirasakan masyarakat pada awal Juli 2026. Langkah ini juga diharapkan bisa meredam tekanan inflasi di sektor transportasi dan logistik yang selama ini membebani daya beli masyarakat.