LAMPUNG — Mobil hybrid terdistribusi 65.968 unit sepanjang Januari–September 2026, setara 9,72% dari total pasar nasional 679.020 unit. Angka itu masih di bawah mobil listrik yang menembus 117.218 unit, tetapi Kementerian Perindustrian tengah mengusulkan insentif non-fiskal berupa bebas ganjil genap dan parkir khusus untuk hybrid, plug-in hybrid, serta REEV.
Usulan itu disampaikan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji seusai bertemu pengurus Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) di Jakarta, Rabu (21/10). Sarmuji menyebut insentif non-fiskal jadi cara pemerintah mendorong adopsi kendaraan elektrifikasi tanpa membebani anggaran.
Sejumlah fasilitas yang dibahas mencakup keringanan administrasi, akses bebas ganjil genap di kota-kota besar, parkir khusus, hingga penambahan fasilitas pengisian daya. Skema ini menyasar hybrid, plug-in hybrid, dan range extended electric vehicles (REEV).
"Nonfiskal itu misalkan administrasi, di kota-kota bisa dipakai, ganjil genap tidak terkena, ada parkir khusus. Mungkin juga kalau yang masih perlu charger, ada fasilitas charger dan sebagainya," ujar Sarmuji dalam keterangan resminya.
Dari sisi industri, pengembangan hybrid, plug-in hybrid, dan REEV dinilai lebih ringan dampaknya bagi rantai pasok lokal. Ketiga teknologi itu tetap memakai mesin pembakaran internal, sehingga pabrikan komponen nasional tidak perlu mengubah lini produksi secara total.
"Kalau yang plug-in maupun hybrid biasa maupun REEV itu masih memakai baterai, tetapi juga masih memakai mesin ICE. Jadi, komponen-komponen yang sekarang diproduksi tidak perlu berubah secara total. Menyesuaikan dirinya masih lebih mudah," kata Sarmuji.
Data wholesales Gaikindo menunjukkan distribusi mobil hybrid Januari–September 2026 mencapai 65.968 unit. Mobil listrik berbasis baterai justru lebih besar, yakni 117.218 unit, atau 17,26% dari total pasar nasional periode yang sama.
Angka itu menandai pergeseran dibanding beberapa tahun lalu. Pada 2021, hybrid hanya terdistribusi 2.472 unit sementara mobil listrik 687 unit. Posisi berbalik sejak 2024, ketika listrik melonjak ke 43.188 unit dan hybrid 59.903 unit, lalu listrik menyalip total hybrid pada 2025 dengan 103.931 unit berbanding 65.943 unit.
Dengan sembilan bulan berjalan, distribusi hybrid 2026 sudah melampaui capaian setahun penuh 2025. Namun laju mobil listrik berbasis baterai bergerak lebih cepat, ditopang beragam insentif fiskal yang sudah berjalan lebih dulu.
Usulan bebas ganjil genap bagi hybrid belum berstatus kebijakan resmi. Pembahasannya masih di tahap pengajuan Kementerian Perindustrian, sehingga waktu penerapan dan cakupan wilayahnya belum ditetapkan.