LAMPUNG — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 14 poin atau 0,078% ke level Rp 18.036 per dolar AS pada Kamis (22/10) pagi, dari penutupan sebelumnya Rp 18.022. Pelemahan terjadi setelah Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate di 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 20-21 Oktober. Analis menilai fokus investor kini beralih ke sentimen pasar ekuitas dan perkembangan geopolitik Timur Tengah.
Data spot Bloomberg menunjukkan rupiah berada di level 18.036 per US$ pada pembukaan perdagangan pagi. Posisi itu melanjutkan tekanan yang sudah terlihat sejak penutupan Rabu (21/10) di angka 18.022 per US$.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyebut keputusan BI yang tidak menaikkan suku bunga acuan menjadi salah satu pemicu pelemahan.
"Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS setelah BI di luar perkiraan tidak menaikkan tingkat suku bunga kemarin," kata Lukman kepada Katadata.co.id, Kamis (22/10).
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI Rate sebesar 5,75% dalam RDG 20-21 Oktober. Suku bunga lending facility juga tetap di 6,5%, sementara deposit facility dinaikkan menjadi 5% dari level sebelumnya.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan keputusan itu mempertimbangkan tekanan eksternal yang meningkat, terutama eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan moneter AS yang diperkirakan tetap ketat lebih lama.
"Keputusan tersebut diperkuat dengan peningkatan kebijakan insentif untuk instrumen domestik non-deliverable forward atau DNDF lindung nilai kepada Bank Indonesia guna menarik aliran masuk modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas," kata Destry dalam konferensi pers hasil RDG di kantor BI, Jakarta, Rabu (21/10).
Destry menjelaskan perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian keuangan tinggi akibat ketegangan geopolitik yang mendorong harga minyak dan komoditas dunia tetap mahal. Pertumbuhan ekonomi global 2026 diperkirakan sekitar 3%, dengan tekanan inflasi mencapai 4,6%.
BI juga menyoroti besarnya peluang kenaikan kembali suku bunga The Fed. Kebijakan moneter global yang tetap ketat atau higher for longer berpotensi menjaga imbal hasil US Treasury tetap tinggi.
Kondisi itu membatasi minat investor terhadap aset portofolio di negara berkembang dan turut menopang penguatan dolar AS.
Lukman menilai fokus investor saat ini tertuju pada sentimen pasar ekuitas. Jika pasar saham kembali membaik, tekanan terhadap rupiah bisa tertahan atau bahkan berbalik menguat.
"Investor juga mencermati laporan atau rumor mengenai potensi kesepakatan damai Iran-AS," kata Lukman.
Bagi pelaku usaha yang punya kewajiban valas, kombinasi BI Rate yang ditahan dan insentif DNDF perlu dicermati sebagai opsi lindung nilai. Sementara investor obligasi akan memantau apakah kenaikan deposit facility ke 5% cukup menahan aliran modal keluar.