BANDAR LAMPUNG — Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan paparan tersebut di Ruang Rapat Utama dalam Focus Group Discussion bersama peserta didik Sespimti Polri, Rabu (7/10). Ia menekankan bahwa sektor pertanian memegang peran sentral bagi perekonomian Lampung karena besarnya jumlah penduduk yang menggantungkan hidup dari lahan.
"Kalau 60 persennya penduduk ini adalah petani, maka yang paling menyebabkan naik-turunnya perekonomian suatu daerah kami ini adalah pertanian sebenarnya," ujarnya.
Lampung memiliki sejumlah komoditas pangan andalan, mulai dari padi, jagung, ubi kayu, nanas, hingga pisang. Produksi padi provinsi ini mencapai sekitar 3,2 juta ton, sedangkan jagung sekitar 1,7 juta ton.
Untuk ubi kayu, Lampung menempati posisi sebagai daerah penghasil terbesar di Indonesia. Capaian produksi itu, menurut Gubernur, belum otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan petani.
Sebagian besar hasil pertanian masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Akibatnya, nilai tambah dan keuntungan lebih banyak dinikmati pelaku pada rantai pasok setelah petani.
"Pangan yang di Provinsi Lampung ini selama ini belum bisa memakmurkan masyarakat Lampung. Petani kita selama ini menjual bahan mentah. Yang kedua, daya tawar petani ini lemah," jelasnya.
Persoalan lain yang disorot adalah kebiasaan menjual komoditas dalam kondisi basah. Padi, jagung, dan singkong dijual basah sehingga harga jualnya rendah dan biaya logistik membengkak.
Pemprov Lampung menyiapkan mesin bed dryer atau pengering hasil pertanian di setiap desa. Setiap fasilitas ditargetkan mampu mendukung kebutuhan sekitar 400 hektare lahan pertanian.
"Kita selalu menjual bahan mentahnya basah. Padi dijual basah, jagung dijual basah, singkong dijual basah. Maka kami buat program di setiap desa, di 400 desa mesin bed dryer. Keluar dari desa itu sudah kering, harganya naik, lebih efisien," ujarnya.
Program pengering ini melengkapi skema penyediaan pupuk yang pada 2025 telah berjalan di 500 desa. Pada 2026, cakupannya diperluas hingga 2.000 desa.
Penguatan ekonomi desa juga ditempuh melalui pelatihan vokasi bagi pemuda usia produktif. Pemprov mendorong penguatan BUMDes dan koperasi agar kelembagaan ekonomi warga lebih kuat.
Mesin-mesin industri sederhana disiapkan untuk mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah. Langkah ini diarahkan agar keuntungan tidak lagi terputus di tangan petani.
Pimpinan Rombongan Sespimti Polri Brigjen Pol. Mardiaz Kusin Dwihananto menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Provinsi Lampung terhadap Pendidikan Kerja Dalam Negeri (PKDN) Sespimti Polri Dikreg ke-36 Tahun 2026.
Menurutnya, kegiatan PKDN memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengintegrasikan teori dan konsep selama pendidikan dengan kondisi nyata di lapangan. Peserta juga diminta memahami karakteristik wilayah dan merumuskan solusi berdasarkan fakta serta data.
Ia menyebut tema PKDN tahun ini relevan dengan tantangan pembangunan nasional, khususnya kedaulatan pangan, energi, dan pertumbuhan ekonomi yang produktif serta inklusif.
"Seorang pemimpin tingkat tinggi dituntut tidak hanya mampu mengelola organisasi internal, tetapi juga harus memiliki kemampuan membaca perubahan dengan strategis, membangun kolaborasi lintas sektoral, serta mengambil keputusan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat," pungkasnya.