LAMPUNG — Dalam surat terbuka yang diterbitkan pekan ini, Birch menyoroti membengkaknya belanja pemain yang tidak diimbangi pendapatan klub. Ia menegaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar masalah satu divisi, melainkan bahaya sistemik yang bisa menyeret klub-klub kebanggaan komunitasnya menuju kebangkrutan.
Data EFL menunjukkan rata-rata pengeluaran untuk pemain di League One melonjak dari 3,8 juta pound menjadi 8,0 juta pound dalam lima musim terakhir. Pada periode yang sama, kerugian klub membengkak dari 2,3 juta pound menjadi 7,3 juta pound per musim.
Di Championship, situasinya disebut Birch jauh lebih parah. Rata-rata kerugian klub pada musim lalu sudah menembus angka 21,6 juta pound, sebuah angka yang menurutnya tidak mungkin ditutup tanpa suntikan dana segar dari pemilik klub.
Gugatan hukum PFA berawal dari keputusan EFL mengganti kerangka Profitability and Sustainability (P&S) dengan Squad Cost Rules (SCR) mulai musim 2026-27. Aturan anyar ini memangkas batas pengeluaran gaji klub League One dari 60 persen menjadi 50 persen dari pendapatan.
PFA menilai perubahan itu tidak sah karena tidak mendapatkan persetujuan penuh dari Komite Negosiasi dan Konsultasi Sepak Bola Profesional (PFNCC). Mereka khawatir aturan tersebut akan menekan pendapatan para pemain yang kariernya singkat.
Birch, yang mengaku paham sepak bola adalah karier pendek, menegaskan bahwa perlindungan pemain dan keberlanjutan finansial klub bukan dua hal yang berseberangan. "Klub yang sehat secara finansial lebih mungkin menghormati kontrak, membayar gaji tepat waktu, dan memberikan peluang karier jangka panjang," tulisnya.
Dampak aturan baru sudah mulai terasa. Oxford United, klub League One, terkena embargo pendaftaran pemain bulan lalu karena gagal mematuhi ketentuan baru. Klub tersebut saat ini tidak bisa merekrut pemain baru, termasuk pemain pinjaman, dan butuh waktu berbulan-bulan untuk memenuhi kewajiban tersebut.
Kasus lebih parah terjadi pada Sheffield Wednesday yang menghabiskan sebagian besar musim lalu di bawah administrasi setelah pemiliknya, Dejphon Chansiri, menarik dana. Klub tersebut sempat terancam gulung tikar dan mendapat pengurangan 18 poin, sebuah skenario yang menurut Birch merusak kredibilitas kompetisi.
Birch menegaskan bahwa gugatan hukum tidak akan menyelesaikan akar masalah sepak bola Inggris, yaitu model bisnis yang memaksa klub mengejar kesuksesan melalui kerugian yang terus ditanggung pemilik. "Litigasi bukan jawaban. Itu tidak akan menyelesaikan tantangan mendasar yang dihadapi sepak bola," ujarnya.
Ia kembali menyoroti pentingnya kesepakatan distribusi pendapatan yang lebih adil dengan Premier League. Kesepakatan solidaritas saat ini disebutnya belum berubah sejak 2019, membuat klub-klub lapis bawah semakin sulit bersaing secara finansial.