LAMPUNG — Ribuan warga Sampit dan sekitarnya kini berhadapan dengan ancaman kesehatan serius. Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur mencatat 704 kasus ISPA selama periode 5-11 Agustus, seiring kabut asap yang kian pekat menyelimuti wilayah tersebut. Kondisi ini diperparah dengan masih munculnya titik panas (hotspot) di sejumlah kecamatan, terutama di area lahan gambut yang kering.
Lonjakan Pasien di Puskesmas dan Distribusi Masker
Puskesmas Ketapang I menjadi fasilitas kesehatan dengan jumlah pasien terbanyak. Petugas kesehatan di lapangan melaporkan peningkatan signifikan pasien dengan keluhan batuk, sesak napas, dan iritasi mata sejak kabut asap mulai pekat.
"Kami mencatat adanya kenaikan kunjungan pasien dengan keluhan sesak napas, batuk, dan iritasi mata sejak kabut asap mulai pekat melanda Sampit. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil menjadi yang paling banyak terdampak," kata Miftahun Nisa, Selasa (11/8).
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan setempat telah mendistribusikan masker ke puskesmas dan titik keramaian. Posko kesehatan juga didirikan untuk mempermudah akses warga mendapatkan penanganan medis tanpa harus menempuh jarak jauh.
Jarak Pandang Menurun dan Penerbangan Tertunda
Dampak kabut asap tidak berhenti pada sektor kesehatan. Jarak pandang di jalan raya mengalami penurunan drastis, memaksa pengendara memperlambat laju kendaraan. Bandar Udara Haji Asan Sampit juga menunda sejumlah jadwal penerbangan lantaran visibilitas yang tidak memenuhi syarat keselamatan.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama pada pagi hingga menjelang sore. Warga yang mengalami gejala gangguan pernapasan diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mencegah komplikasi akibat paparan asap jangka panjang.
Pemadaman Lewat Water Bombing dan Modifikasi Cuaca
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait terus berupaya memadamkan api. Operasi water bombing dan teknologi modifikasi cuaca (TMC) dikerahkan untuk menekan penyebaran kabut asap yang semakin meluas.
Upaya ini menyasar titik-titik api di wilayah gambut yang sulit dijangkau petugas darat. Namun, tantangan terbesar adalah kondisi lahan gambut yang kering, membuat api mudah menyebar di bawah permukaan dan sulit dipadamkan sepenuhnya.