BANDARLAMPUNG — Kepala Kantor Basarnas Provinsi Lampung Deden Ridwansah memastikan pihaknya terus menggencarkan edukasi penyelamatan diri kepada masyarakat yang bermukim di kawasan rawan erupsi Gunung Anak Krakatau. Pelatihan ini menjadi prioritas karena karakteristik wilayah terdampak yang sulit dijangkau dan membutuhkan waktu tempuh panjang.
"Dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kegawatdaruratan akibat bencana, khususnya erupsi Gunung Anak Krakatau, telah dilakukan sejumlah upaya, salah satunya memperkuat edukasi kepada masyarakat," ujar Deden di Bandarlampung, Senin.
Warga Dibekali Kemampuan Selamatkan Diri Sebelum Tim Tiba
Edukasi yang diberikan mencakup tata cara penyelamatan diri saat erupsi terjadi. Basarnas tidak hanya melatih warga untuk menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga membekali mereka agar mampu membantu evakuasi keluarga dan tetangga sebelum personel Basarnas, TNI, atau petugas lain sampai di lokasi.
"Basarnas ikut membekali masyarakat melalui kegiatan pemberdayaan untuk memperkuat kemampuan warga ketika daerahnya terdampak bencana, sehingga mereka paham hal yang harus dilakukan dan paling tidak bisa menyelamatkan diri sendiri," kata Deden.
Mengapa Pelatihan Ini Menyasar Desa Way Muli dan Pulau Sebesi?
Deden menjelaskan, pemilihan lokasi pelatihan didasarkan pada tingkat kerawanan dan sejarah bencana. Desa Way Muli di Lampung Selatan menjadi prioritas utama karena kawasan tersebut sempat terdampak langsung erupsi dan tsunami Selat Sunda pada akhir 2018 silam.
Selain itu, warga yang bermukim di Pulau Sebesi dan pulau-pulau kecil di sekitar gunung juga menjadi sasaran program pemberdayaan ini. Jarak tempuh yang jauh menuju lokasi-lokasi tersebut menjadi alasan utama mengapa kemampuan evakuasi mandiri warga sangat krusial.
"Misalnya, wilayah yang terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan merupakan daerah yang jaraknya jauh dan membutuhkan waktu tempuh panjang. Dengan membekali masyarakat agar bisa melakukan evakuasi awal, risiko darurat dapat dikurangi secara mandiri. Oleh karena itu, pelatihan dan pemberdayaan ini terus kami lakukan," ucap dia.
19 Kali Erupsi Tercatat Sepanjang Juni-Juli
Upaya penguatan mitigasi ini berjalan di tengah tingginya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat gunung yang berada di Selat Sunda itu telah mengalami 19 kali erupsi sepanjang periode Juni hingga Juli 2026.
Hingga saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Deden menegaskan langkah antisipatif harus terus dilakukan secara berkelanjutan bersama unsur terkait agar dampak negatif dan korban jiwa dapat diminimalisir ketika kedaruratan benar-benar terjadi.