Pencarian

Provinsi Lampung Diusulkan Jadi Pusat Hilirisasi Komoditas Pangan Nasional, Singkong Jadi Model Perdana

Jumat, 24 Juli 2026 • 20:04:01 WIB
Provinsi Lampung Diusulkan Jadi Pusat Hilirisasi Komoditas Pangan Nasional, Singkong Jadi Model Perdana
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan usulan pengembangan hilirisasi komoditas pangan saat bertemu Menteri Bappenas di Bandarlampung.

BANDARLAMPUNG — Rencana ambisius menjadikan Lampung sebagai pusat hilirisasi pangan nasional mulai menemukan bentuk. Dalam pertemuan dengan Menteri Bappenas, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan bahwa pemerintah pusat memfokuskan pengembangan hilirisasi di provinsi ujung selatan Sumatera ini.

Mengapa Hilirisasi Mendesak Dilakukan di Lampung?

Selama ini, komoditas seperti kopi, padi, kakao, jagung, dan ubi kayu asal Lampung masih diperjualbelikan dalam bentuk bahan mentah ke luar daerah. Akibatnya, nilai tambah ekonomi justru dinikmati daerah lain yang mengolahnya lebih lanjut.

"Kita mencoba mengembangkan hilirisasi komoditas ini untuk memastikan komoditas asal Lampung tidak dijual dalam bentuk mentah," ujar Gubernur Rahmat Mirzani Djausal di Bandarlampung, Jumat.

Singkong Jadi Model Percontohan Nasional

Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan mengungkapkan, salah satu komoditas prioritas yang akan dihilirisasi adalah ubi kayu atau singkong. Lampung ditunjuk sebagai model hilirisasi ubi kayu tingkat nasional.

"Nanti Lampung akan menjadi model pengembangan ubi kayu di Indonesia, dan ini akan membantu agar komoditas daerah bisa makin bernilai tambah," kata Marindo.

Lokasi pengembangan hilirisasi ubi kayu ini direncanakan di beberapa titik, salah satunya di Tegineneng. Pemerintah belum merinci total investasi yang dibutuhkan untuk proyek ini.

Potensi Ekonomi Komoditas Lampung yang Akan Diolah

Data Pemprov Lampung mencatat, produksi ubi kayu mencapai 7,5 juta ton per tahun dari luas tanam 228.508 hektare, dengan nilai ekonomi Rp10,16 triliun. Selain singkong, terdapat komoditas lain yang juga masuk daftar hilirisasi:

  • Padi: produksi 3,2 juta ton dari lahan 596.020 hektare, nilai ekonomi Rp25,48 triliun.
  • Jagung: produksi 1,2 juta ton dari luas 194.487 hektare, nilai ekonomi Rp7,58 triliun.
  • Nanas: produksi 698.902 ton dari luas 8.166 hektare, nilai ekonomi Rp6,29 triliun.
  • Pisang: produksi 2 juta ton dari luas 10.089 hektare, nilai ekonomi Rp30,02 triliun.

Lokasi Hilirisasi Tersebar di Berbagai Daerah

Gubernur menjelaskan, pengembangan pusat hilirisasi tidak hanya terpusat di satu titik. Bappenas mengusulkan lokasi pengembangan tersebar di berbagai daerah di Provinsi Lampung, menyesuaikan dengan potensi komoditas unggulan masing-masing wilayah.

"Sedangkan untuk lokasi hilirisasi tersebut, usulan pengembangannya dari Bappenas itu ada di berbagai daerah di Provinsi Lampung," ucap dia.

Pemprov Lampung kini tengah menyusun peta jalan hilirisasi yang terintegrasi dengan rencana pembangunan nasional. Langkah selanjutnya adalah menetapkan skema pendanaan dan investor yang akan terlibat dalam pembangunan fasilitas pengolahan komoditas pangan ini.

Follow lampungvoice.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: lampung.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks