LAMPUNG — Militer Ukraina mengevakuasi seorang tentara infanteri yang terluka menggunakan drone hexacopter Gurzuf Defence di front Kharkiv timur, diklaim sebagai evakuasi manusia lewat udara pertama di dunia. Operasi dilakukan karena lokasi korban di area penuh ranjau dan terpantau drone kamikaze Rusia sehingga jalur darat tidak memungkinkan. Brigade ke-92 dan Brigade Mekanis ke-30 terlibat dalam misi penyelamatan ini.
Operasi penyelamatan berlangsung di wilayah yang terkepung ranjau dan diawasi drone kamikaze Rusia. Tentara berusia 80 kilogram dengan nama sandi Kostya itu disebut berada sekitar 18 kilometer di belakang garis musuh, membuat tim penyelamat tidak bisa mengirim kendaraan darat.
Kanaldaring United24 menyiarkan rekaman operasi yang memperlihatkan drone menemukan posisi Kostya, lalu tentara tersebut mengaitkan dirinya ke harness sederhana sebelum diterbangkan. "Sudah, kita bisa lepas landas," ujar Kostya dalam video saat pengaitnya terkunci.
Operator UAV dengan nama sandi Black dari Batalyon Mekanis ke-20, Brigade Infanteri ke-30, mengaku terus berkomunikasi dengan Kostya selama proses evakuasi berlangsung. "Kami terus berhubungan dengannya," kata Black dalam rekaman yang sama.
Medan di sekitar posisi Kostya dipenuhi ranjau darat, sementara sejumlah drone kamikaze Rusia berpatroli di udara. Kondisi itu membuat evakuasi darat nyaris mustahil dilakukan tanpa risiko korban tambahan.
Tim penyelamat mengerahkan sejumlah drone pendukung, termasuk UAV kamikaze dan drone berjaring anti-drone, untuk mengawal proses pengangkutan. Setelah Kostya mendarat di lapangan yang lebih aman, ruang kendali operasi langsung riuh oleh tepuk tangan.
"Banyak orang terlibat, dan semuanya berjalan sesuai rencana," ujar Black.
Pemimpin brigade dengan nama sandi Napalm menyebut operasi ini berpotensi menjadi cikal bakal sistem evakuasi personel yang terluka atau terjebak di garis depan. Metode serupa bisa dipakai ketika jalur darat tertutup ranjau maupun ancaman udara.
Kostya kini menjalani perawatan dan dilaporkan dalam masa pemulihan. Klaim "pertama di dunia" ini belum diverifikasi pihak independen, tetapi rekaman operasi telah beredar luas lewat kanal United24.
Bagi pengamat teknologi pertahanan, kasus ini menunjukkan pergeseran fungsi drone militer dari sekadar pengintai dan penyerang menjadi alat logistik hingga penyelamat. Kapasitas angkat 130 kilogram pada hexacopter komersial berat membuka kemungkinan evakuasi korban tanpa melibatkan kendaraan lapis baja yang rentan disergap.