BANDAR LAMPUNG — Data pemantauan BMKG Lampung menunjukkan 111 titik panas tersebar di sejumlah kabupaten/kota, dengan Kabupaten Way Kanan menjadi wilayah terbanyak mencapai 27 titik. Dari total tersebut, satu titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi, 100 titik tingkat menengah, dan 10 titik tingkat rendah.
Kondisi ini diperparah dengan kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Way Kambas. Api mulai muncul sejak Jumat (21/8) dan hingga Sabtu masih dalam proses penanganan tim gabungan, terkendala medan yang sulit dijangkau kendaraan.
Nessy Kalviya menegaskan data titik panas tersebut harus menjadi alarm bagi semua pihak. Ia meminta langkah pencegahan tidak menunggu api membesar, tetapi segera diperkuat saat indikasi dan titik panas mulai terdeteksi.
"Data ini harus menjadi alarm bagi kita semua. Jangan menunggu api membesar baru kita bergerak. Kalau sudah ada indikasi dan titik panas, langkah pencegahan harus segera diperkuat," kata Nessy dalam keterangannya, Sabtu (22/8/2026).
Ancaman karhutla kian nyata menyusul kondisi kekeringan ekstrem. Data BMKG mencatat sejumlah wilayah di Lampung telah mengalami hari tanpa hujan dalam kategori sangat panjang, dengan durasi lebih dari 45 hari bahkan mencapai 55 hari.
Sebagai anggota Komisi VIII DPR RI, Nessy menilai penguatan mitigasi merupakan bagian penting dalam penanggulangan bencana. Ia meminta koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, BNPB, TNI-Polri, pengelola kawasan hutan, dunia usaha, dan masyarakat terus diperkuat.
"Yang paling penting adalah kesiapan. Kita harus tahu daerah mana yang rawan, bagaimana aksesnya, siapa yang bergerak ketika ada kejadian, dan bagaimana koordinasinya. Jangan sampai ketika bencana terjadi kita baru mencari siapa yang harus bertindak," ujarnya.
Legislator dari Dapil Lampung II ini juga menyoroti pentingnya kesiapan personel, sarana prasarana, serta mekanisme respons cepat di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi. Sebelumnya, BPBD Lampung menyatakan opsi water bombing dapat digunakan apabila karhutla meluas dan sulit dijangkau melalui operasi darat.
Nessy mengingatkan peran masyarakat dalam sistem pencegahan karhutla, terutama dengan tidak membakar lahan secara sembarangan. Ia meminta warga segera melaporkan jika menemukan titik api atau asap yang mencurigakan.
"Karhutla bukan hanya persoalan pemerintah. Masyarakat juga menjadi bagian penting dari sistem pencegahan. Kalau ada api atau asap yang mencurigakan, segera laporkan. Jangan dianggap kecil karena dalam kondisi kering api bisa cepat meluas," katanya.
Nessy menegaskan perhatian terhadap karhutla di Lampung akan menjadi bagian dari komitmennya menjalankan fungsi sebagai wakil masyarakat di DPR RI. "Di Komisi VIII, kita memiliki ruang untuk mengawal aspek mitigasi dan penanggulangan bencana bersama pemerintah dan BNPB," pungkasnya.