LAMPUNG — Beelink SER10 Max hadir dengan pendekatan berbeda di segmen mini PC. Alih-alih hanya mengandalkan Windows, perangkat ini menawarkan dual boot antara Windows 11 Pro dan Ubuntu, lengkap dengan platform OpenClaw serta model bahasa besar (LLM) Qwen 3.5-9B yang sudah tertanam di penyimpanan. Dengan banderol USD 1.649 (sekitar Rp 27,2 juta) untuk konfigurasi 64GB/2TB, mini PC ini menyasar pengguna yang ingin bereksperimen dengan AI lokal tanpa perlu merakit sistem sendiri.
Fitur utama SER10 Max justru menjadi catatan terlemahnya. Perpindahan antara Windows dan Ubuntu tidak dilakukan lewat menu boot loader. Pengguna harus masuk ke BIOS terlebih dahulu untuk memilih drive mana yang akan dijalankan. Ini bukan masalah besar, tapi merepotkan jika kamu sering berpindah sistem operasi.
Masalah lain muncul pada driver jaringan. Chip Wi-Fi tidak terdeteksi di Ubuntu sampai pengguna pertama kali mem-boot Windows, melakukan setup, lalu restart. Pengujian berulang menunjukkan bahwa instalasi ulang driver di Ubuntu tidak menyelesaikan masalah ini. Ini adalah kendala yang tidak disebutkan dalam materi pemasaran Beelink.
Dalam pengujian sintetis, SER10 Max berada di posisi tengah di antara mini PC sekelasnya. Skor single-thread Geekbench 6 sedikit di atas Arctic Senza AI 370, namun kalah dari MSI Cubi AI+ 3MG NUC dan GMKtec EVO-T2. Untuk tugas sehari-hari seperti editing video ringan di CapCut, perangkat ini bekerja mulus tanpa penundaan berarti.
Sayangnya, batas bandwidth memori 89,6 GB/s—jauh di bawah Strix Halo yang mencapai 256 GB/s—menjadi pembatas utama. Di Cyberpunk 2077 dengan pengaturan Steam Deck 1080p, rata-rata frame rate mencapai 51 FPS dengan 1% low 42 FPS. Angka ini turun drastis ke 30 FPS pada pengaturan High tanpa upscaler. Game 2D seperti Hollow Knight: Silksong berjalan mulus di 100 FPS pada 4K, tapi judul 3D berat akan memaksa kamu menurunkan banyak pengaturan grafis.
OpenClaw yang sudah terpasang memudahkan pemula menjalankan asisten AI lokal. Panduan dari Beelink cukup jelas, dan dalam 10 menit, model Qwen 3.5-9B dapat diakses lewat Telegram. Namun, kecepatan inferensi hanya 11,4 token per detik—terbilang lambat. Sebuah kueri 1.350 token membutuhkan waktu sekitar dua menit untuk selesai. Untuk pengguna yang serius mengembangkan AI, sistem dengan bandwidth memori lebih besar seperti AMD Strix Halo atau Nvidia DGX Spark adalah pilihan yang lebih masuk akal.
Beelink menawarkan SER10 Max dalam beberapa konfigurasi. Varian Windows 11 Pro dengan RAM 32GB/1TB dibanderol USD 1.299 (sekitar Rp 21,4 juta), sementara versi 64GB/1TB dihargai USD 1.599 (sekitar Rp 26,4 juta). Model OpenClaw dengan Ubuntu dan bodi merah mulai dari USD 1.339 untuk 32GB/1TB. Konfigurasi tertinggi 96GB/2TB mencapai USD 2.199 (sekitar Rp 36,3 juta). Sebagai perbandingan, MINISFORUM AI X1 Pro-470 dengan spesifikasi 64GB/1TB dijual USD 1.639, sedikit lebih mahal dari varian setara milik Beelink.
SER10 Max adalah desktop yang senyap, solid, dan mampu menangani tugas produktivitas berat dengan baik. Desain aluminium merahnya juga menarik, meski power brick eksternal memakan ruang tambahan. Namun, positioning-nya sebagai "AI-ready" terasa dipaksakan. Untuk sekadar menjalankan model kecil dan tugas ringan, perangkat ini berfungsi. Untuk kebutuhan AI serius, kamu akan kecewa.
Jika kamu butuh mini PC serba bisa untuk kerja harian dan sesekali gaming ringan, SER10 Max adalah pilihan tepat. Tapi jika alasan utama membeli adalah OpenClaw dan AI lokal, pertimbangkan kembali—atau siapkan strategi hybrid dengan API cloud untuk tugas yang lebih berat.