LAMPUNG — Defisit Juni 2026 ini merupakan yang kedua kalinya terjadi tahun ini, setelah pada Mei 2026 tekornya menembus USD 1,61 miliar. Angka tersebut sekaligus menghentikan catatan surplus beruntun Indonesia yang bertahan selama 72 bulan sejak 2020.
Berdasarkan data BPS yang dirilis Senin (3/8), sektor migas menjadi biang keladi utama dengan defisit USD 3,49 miliar. Meski sedikit membaik dibanding posisi Mei yang menyentuh USD 3,76 miliar, komoditas nonmigas hanya mampu mengompensasi dengan surplus USD 3,04 miliar.
Ekspor Tumbuh 8,84 Persen tapi Impor Melonjak Lebih Cepat
Nilai ekspor Indonesia pada Juni 2026 mencapai USD 25,46 miliar, tumbuh 8,84 persen secara tahunan. Sektor nonmigas menyumbang USD 24,39 miliar dengan pertumbuhan 9,46 persen. Namun, kinerja positif itu tergerus impor yang melesat signifikan hingga USD 25,91 miliar—melonjak 34,27 persen dibanding Juni 2025.
Pemicu utamanya tidak lain adalah impor migas yang meroket 105,15 persen secara tahunan menjadi USD 4,56 miliar. Secara kumulatif Januari–Juni 2026, Indonesia masih mengantongi surplus USD 3,58 miliar, tetapi jumlah ini merosot tajam dari USD 19,60 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Harga Pertamax Turun Jadi Rp 15.950, Subsidi Tetap Aman
Di tengah gejolak neraca dagang, pemerintah justru merespons tren penurunan harga minyak dunia dengan memangkas harga BBM nonsubsidi. PT Pertamina (Persero) resmi menurunkan harga Pertamax RON 92 di DKI Jakarta dari Rp 16.250 menjadi Rp 15.950 per liter, berlaku mulai 1 Agustus 2026.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa fluktuasi harga BBM nonsubsidi otomatis mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia dan patokan Indonesian Crude Price (ICP). Ketika tren global turun, badan usaha swasta dan BUMN langsung melakukan koreksi harga di pasar domestik.
Meski dinamika geopolitik masih bergejolak, pemerintah menegaskan harga BBM bersubsidi tidak akan berubah. Pertalite tetap di angka Rp 10.000 per liter dan Bio Solar Rp 6.800 per liter. Sementara untuk kategori solar nonsubsidi, Pertamina Dex bertahan di Rp 21.150 per liter dan Dexlite Rp 19.700 per liter.
80 Persen Konsumsi BBM Nasional Masih Disubsidi
Langkah pengamanan harga subsidi dinilai krusial karena sekitar 80 persen total konsumsi BBM nasional didominasi jenis subsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat luas. Adapun porsi BBM nonsubsidi hanya 20 persen, yang dikonsumsi oleh kelompok masyarakat mampu.
Dengan struktur konsumsi seperti ini, penurunan harga Pertamax dinilai tidak akan banyak mengubah tekanan inflasi secara agregat. Namun, bagi pemilik kendaraan pribadi yang selama ini mengandalkan BBM nonsubsidi, pemangkasan Rp 300 per liter ini memberikan sedikit ruang napas di tengah biaya operasional yang terus meningkat.