LAMPUNG — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok 630,78 poin atau 10,76 persen ke level 5.233 pada penutupan sesi I Jumat (16/10). Aksi jual masif terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Sebanyak 771 saham melemah, hanya 14 saham menguat, dan tiga saham stagnan.
Data RTI Business menunjukkan volume perdagangan sesi I mencapai 38,70 miliar saham dengan nilai transaksi Rp17,33 triliun dan frekuensi 1,35 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat Rp9.245,87 triliun. Tekanan jual datang bersamaan dengan langkah MSCI yang mengumumkan dimulainya konsultasi perubahan klasifikasi pasar Indonesia pada Jumat (16/10).
MSCI Soroti Tata Kelola dan Dugaan Perdagangan Terkoordinasi
Dalam tinjauannya, MSCI menerima kekhawatiran signifikan dari investor institusi mengenai kelayakan investasi di Indonesia. Dua isu utama yang disorot adalah ketidakjelasan struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi.
MSCI menilai reformasi pasar saham Indonesia belum menunjukkan kemajuan yang konsisten. Meski otoritas telah mengumumkan sejumlah kebijakan perbaikan, investor institusi menuntut bukti bahwa reformasi tersebut berdampak nyata dan berkelanjutan terhadap tata kelola serta fungsi pasar.
"MSCI juga menyoroti dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi yang masih berlangsung serta belum adanya bukti penegakan aturan yang berarti," demikian tertulis dalam pengumuman lembaga indeks global tersebut.
Bukan Frontier Market, MSCI Pilih Status Standalone
MSCI mengusulkan perubahan langsung ke kategori pasar mandiri (standalone market), bukan pasar perintis (frontier market). Menurut MSCI, kategori frontier tidak akan mencerminkan secara tepat tingkat keparahan persoalan yang terjadi di pasar saham Indonesia.
Keputusan final akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027. Pelaku pasar diberi kesempatan menyampaikan masukan hingga 30 April 2027. MSCI memperkirakan akan melanjutkan usulan perubahan klasifikasi tersebut kecuali hasil konsultasi menunjukkan bukti jelas perbaikan signifikan dalam tata kelola dan fungsi pasar.
Pembekuan Sejumlah Penyesuaian Indeks
Selama proses konsultasi berjalan, MSCI mempertahankan pembekuan sejumlah perubahan terkait indeks saham Indonesia hingga pemberitahuan lebih lanjut. Kebijakan ini mencakup:
- Tidak menerapkan peningkatan faktor inklusi investor asing (foreign inclusion factor/FIF)
- Tidak menambah jumlah saham (number of shares/NOS)
- Tidak menambahkan saham ke dalam MSCI Indonesia Investable Market Index (IMI)
- Tidak memindahkan saham ke indeks dengan segmen kapitalisasi pasar yang lebih besar
MSCI tetap akan menghapus saham-saham yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia berdasarkan kerangka HSC. Lembaga ini juga akan menggunakan data keterbukaan informasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen untuk menyesuaikan estimasi free float.
Asing Masih Catat Net Buy, tapi Data Per 15 Oktober
Di tengah tekanan pasar, investor asing tercatat membukukan beli bersih Rp567,96 miliar berdasarkan data terakhir RTI Business per 15 Oktober 2026. Beli bersih di pasar reguler mencapai Rp520,03 miliar, sedangkan di pasar negosiasi dan tunai Rp47,93 miliar.
Angka net buy tersebut belum mencerminkan arus dana asing pada sesi I Jumat (16/10) ketika pengumuman MSCI dirilis. Sejumlah analis pasar modal memperkirakan tekanan jual lanjutan masih mungkin terjadi hingga ada kejelasan arah reformasi pasar yang diakui MSCI.
Apa Artinya bagi Investor dan Emiten
Jika status standalone terwujud, saham-saham Indonesia berpotensi keluar dari berbagai indeks global MSCI yang selama ini menjadi acuan alokasi dana investor institusi. Konsekuensinya, dana asing yang selama ini masuk melalui jalur passive investment bisa tergerus.
Bagi emiten dengan porsi kepemilikan asing besar, risiko penurunan likuiditas dan tekanan valuasi menjadi perhatian utama. Otoritas pasar modal menghadapi tenggat hingga April 2027 untuk meyakinkan MSCI bahwa reformasi tata kelola berjalan konsisten dan penegakan aturan berjalan nyata.