Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Lampung memperkuat ekosistem peternakan sapi dan pengembangan Pisang Mas Tanggamus melalui perluasan kemitraan, akses pembiayaan, dan penerapan ekonomi sirkular. Pertemuan bersama PT Great Giant Livestock di Kantor OJK Lampung, Bandarlampung, Rabu (30/9), membahas peningkatan populasi sapi kemitraan dari 575 ekor menjadi 1.500 ekor pada 2026.
BANDARLAMPUNG — Kepala OJK Provinsi Lampung Otto Fitriandy memimpin pertemuan bersama Direksi PT Great Giant Livestock (GGL) Welly Soegiono di Ruang Rapat Siger. Populasi sapi dalam program kemitraan tercatat naik dari 575 ekor menjadi 1.500 ekor pada 2026, dengan target 1.800 ekor pada 2027.
PT GGL menjalankan pola kemitraan dengan menyerahkan sapi kepada peternak setelah memasuki masa kebuntingan sekitar empat hingga lima bulan. Sapi jantan diarahkan untuk program fattening, sedangkan sapi betina dipertahankan untuk breeding.
Mengapa Breeding dan Fattening Harus Berjalan Bersamaan
Otto menyampaikan bahwa pengembangan breeding perlu berjalan beriringan dengan fattening. Tujuannya agar peternak memperoleh pendapatan jangka pendek sekaligus membangun populasi ternak secara berkelanjutan.
Dari sisi pembiayaan, penyaluran kepada peternak di Lampung Tengah bersama Bank Lampung meningkat dari sekitar Rp200 juta per petani pada 2025 menjadi Rp300 juta pada 2026. BPRS Lampung Timur telah menyalurkan pembiayaan Rp922,754 juta untuk program penggemukan sapi.
Peternak Terdampak PMK dan Kendala SLIK Dapat Penilaian Khusus
OJK mendorong lembaga jasa keuangan melakukan penilaian secara case by case terhadap peternak yang mengalami kendala SLIK. Penilaian khusus berlaku termasuk bagi peternak yang terdampak penyakit mulut dan kuku (PMK).
Lembaga jasa keuangan juga diminta mengembangkan alternatif pembiayaan di luar KUR dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian. Keterlibatan generasi muda didorong melalui program Agrifuture dan Siger Taruna Preneur.
Pisang Mas Tanggamus Tembus Jepang, Gedebong Jadi Pakan Sapi
Pisang Mas Tanggamus telah menembus pasar Jepang dengan nilai ekspor sekitar Rp40–50 miliar per tahun. Komoditas ini berpeluang dikembangkan melalui integrasi dengan sektor peternakan dalam konsep ekonomi sirkular.
Gedebong pisang dapat diolah menjadi silase sebagai pakan sapi, sementara kotoran sapi dimanfaatkan sebagai kompos. Menurut Welly Soegiono, integrasi tersebut perlu dilakukan secara selaras antara kebutuhan sektor pertanian dan peternakan.
"Timingnya harus sinkron. Kapan PED Sapi dan PED Pisang Mas bisa bertemu. Gedebong menjadi pakan dan kotoran sapi menjadi kompos," ujar Welly Soegiono.
Langkah Lanjutan: Koordinasi dengan BPD hingga Pemetaan Clustering
OJK Provinsi Lampung akan mendorong koordinasi dengan BPD Lampung, Pemerintah Provinsi Lampung, PT Juang Jaya, perusahaan asuransi, dan lembaga penjaminan. Koordinasi itu untuk memperkuat ekosistem pembiayaan peternakan.
OJK juga akan mendorong pemetaan clustering Pisang Mas di Provinsi Lampung sebagai bahan penyusunan PED 2027. Penguatan sinergi tersebut diharapkan meningkatkan nilai tambah komoditas, memperluas kemitraan, serta mendukung ekonomi daerah dan kesejahteraan petani dan peternak.