Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menerima penghargaan dari Pemerintah Provinsi Lampung sebagai kabupaten berkinerja baik dalam pencegahan dan percepatan penurunan stunting tahun 2026. Penghargaan itu sejalan dengan capaian prevalensi stunting daerah tersebut yang tercatat 10,4 persen berdasarkan SSGI 2024, lebih rendah dari angka Provinsi Lampung sebesar 15,9 persen. Pemkab Lamsel kini menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 9 persen pada 2029.
LAMPUNG SELATAN — Kepala Dinas Kesehatan Lampung Selatan Devi Arminanto menyatakan penghargaan tersebut mencerminkan tren indikator stunting yang terus membaik di daerah itu. Menurut data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM), prevalensi stunting Lampung Selatan turun dari dua persen pada 2022 menjadi 1,2 persen pada 2026.
“Berdasarkan SSGI 2024, prevalensi stunting Lampung Selatan sebesar 10,4 persen, lebih rendah dibandingkan prevalensi Provinsi Lampung sebesar 15,9 persen,” kata Devi Arminanto.
Konvergensi Lintas Sektor Jadi Kunci Penanganan
Devi menjelaskan konvergensi program menjadi bagian penting untuk memastikan intervensi penanganan stunting berjalan secara terintegrasi, berbasis data, dan tepat sasaran. Intervensi tidak hanya menyasar balita yang mengalami stunting, tetapi juga sejak masa kehamilan hingga periode 8.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Dengan pendekatan itu, pencegahan dan pendampingan keluarga dapat dilakukan secara berkelanjutan. Kolaborasi melibatkan Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TPPPS), perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan desa, Tim Pendamping Keluarga (TPK), TP PKK, serta berbagai unsur masyarakat.
Enam Indikator Pelayanan Semester I 2026
Sejumlah indikator pelayanan pada Semester I 2026 menunjukkan capaian positif. Pemantauan pertumbuhan anak bawah dua tahun mencapai 100 persen, disusul pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) 99,23 persen dan pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri 98,65 persen.
Pemberian ASI eksklusif tercatat 97,35 persen, sementara pendampingan keluarga oleh Tim Pendamping Keluarga mencapai 96,6 persen. Capaian itu didukung 1.067 posyandu dan 6.017 kader kesehatan yang tersebar di Lampung Selatan.
Penguatan di Tingkat Keluarga Masih Diperlukan
Meski sejumlah indikator sudah tinggi, Devi menyebut penguatan tetap diperlukan terutama hingga tingkat keluarga. Pemkab Lampung Selatan akan memperkuat pemutakhiran data keluarga berisiko stunting dan sasaran 8.000 HPK.
Langkah lain mencakup peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak, penguatan pendampingan keluarga, edukasi pemenuhan gizi, serta monitoring dan evaluasi berkala.
“Pemkab Lampung Selatan berkomitmen untuk terus memperkuat pelaksanaan program pencegahan dan percepatan penurunan stunting melalui pendekatan yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berbasis data,” ujarnya.
Seluruh upaya tersebut diarahkan untuk menjaga tren penurunan stunting sekaligus mendukung pencapaian target prevalensi stunting Lampung Selatan sebesar 9 persen pada 2029.