LAMPUNG — Apple iPhone Duo diprediksi mengalahkan seluruh foldable Android meski kalah di atas kertas, karena keunggulan utamanya ada di pengalaman software dan aplikasi. Sejumlah pesaing seperti Xiaomi 18 Fold memang menang di bobot, baterai, dan harga, tetapi kerap terkendala eksekusi perangkat lunak. Perangkat ini disebut bakal jadi acuan baru buat pabrikan Android yang ingin serius menggarap foldable.
Apple iPhone Duo menjadi bahan perbandingan hangat di kalangan pengamat gadget. Sebuah ulasan video dari kanal Mrwhosetheboss yang sudah ditonton lebih dari 16 juta kali menyoroti bagaimana Xiaomi 18 Fold tampak unggul di berbagai spesifikasi, namun menyimpan sejumlah kelemahan saat diuji lebih dalam.
Kesimpulan utamanya bukan soal siapa punya angka lebih besar, melainkan seberapa matang software dan aplikasi dioptimalkan untuk layar lipat. Di titik itu, iPhone Duo disebut berada di level berbeda dibanding rival-rivalnya dari ekosistem Android.
Kelebihan Xiaomi 18 Fold di Atas Kertas
Xiaomi 18 Fold memang menang di banyak aspek teknis. Bobotnya lebih ringan, bodinya lebih tipis, dan harganya lebih murah beberapa ratus dolar dibanding iPhone Duo.
Ponsel ini juga membawa kamera telefoto, baterai lebih besar, pengisian daya lebih cepat, layar lebih terang, serta kemampuan multitasking yang lebih luas. Di atas kertas, kombinasi ini membuatnya tampak seperti pembunuh iPhone Duo.
Kelemahan yang Muncul Saat Diuji Lebih Dalam
Masalah mulai terlihat ketika perangkat diuji secara menyeluruh. Xiaomi 18 Fold memakai rangka aluminium yang lebih rentan, sementara iPhone Duo memakai rangka titanium yang lebih kuat.
iPhone Duo juga memiliki rating IP68 untuk ketahanan terhadap air dan debu, sesuatu yang tidak dimiliki Xiaomi 18 Fold. Selain itu, lipatan layar pada Xiaomi lebih terlihat karena tidak memakai teknologi nano-texture display seperti pada Duo.
Yang paling mengganggu, menurut pengujian tersebut, adalah munculnya bunyi klik yang mengkhawatirkan setiap kali perangkat dibuka dan ditutup. Detail semacam ini jarang terlihat di lembar spesifikasi, tapi langsung terasa saat dipakai.
Software Jadi Pembeda Utama
Alasan sesungguhnya iPhone Duo disebut lebih unggul adalah cara Apple mengoptimalkan sistem operasi dan aplikasi untuk format layar lipat. Xiaomi dinilai sekadar menempelkan OS regulernya ke perangkat lipat, sehingga hasilnya kadang terasa janggal.
Apple merancang ulang dock di iPhone Duo agar berada di sisi kanan, sehingga lebih mudah dijangkau baik saat layar tertutup maupun terbuka. Kontrol di dalam aplikasi juga disesuaikan dengan ruang layar yang lebih lebar.
Software iPhone Duo juga bisa beradaptasi dengan "pose" perangkat. Saat diputar terbalik dalam mode tenda, perangkat otomatis berubah menjadi jam alarm dan memancarkan cahaya lembut ketika alarm berbunyi.
iOS 27 Bereaksi saat Perangkat Dilipat
Apple merancang iOS 27 agar iPhone Duo merespons setiap lipatan. Kalau perangkat dilipat separuh saat membuka Safari, keyboard otomatis muncul di bagian bawah layar.
Ketika berdiri tegak, pengguna bisa menampilkan kalender di sisi kiri dan foto favorit di sisi kanan, mirip bingkai foto digital. Apple juga menyediakan API buat developer supaya aplikasi bisa "membaca" sudut engsel.
Dalam wawancara dengan kanal Donald Decodes di YouTube, Craig Federighi dari Apple memastikan akurasi pembacaan sudut engsel berada dalam rentang 5 derajat. Menurutnya, sebagian besar developer akan fokus pada berbagai pose perangkat seperti book pose, table pose, atau tent pose.
"We make those things so that as a developer you're not having to operate on how many degrees [it's] open," kata Federighi. "We can deliver a really standard and consistent experience across apps."
Samsung disebut meninggalkan fitur serupa, Flex mode, untuk Galaxy Z Fold 8 dan hanya menyimpannya di Fold 8 Ultra. Avi Greengart, pendiri sekaligus analis utama di Techsponential, menilai langkah Apple ini sebagai keunggulan yang jelas.
"There are choices that Samsung previously tried that Apple is