Lampung bukan sekadar pintu gerbang Sumatera. Di balik hiruk-pikuk Pelabuhan Bakauheni dan jalan lintas Sumatera, provinsi ini memiliki akar sejarah yang dalam. Bukti arkeologis di daerah Pugung Raharjo menunjukkan peradaban sudah ada sejak abad ke-6 Masehi, jauh sebelum masa kolonial. Bagi saya yang beberapa kali melintasi Lampung, baru terasa betapa kayanya budaya daerah ini ketika berhenti lebih dari sekadar transit.
Warisan budaya Lampung terbagi dalam dua kelompok etnis utama: Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin. Masing-masing punya struktur adat, bahasa, dan upacara yang berbeda. Berikut tujuh pilar sejarah dan budaya yang masih bisa Anda saksikan langsung.
1. Rumah Adat Nuwou Sesat: Arsitektur yang Sarat Makna
Nuwou Sesat adalah rumah adat khas Lampung, berbentuk panggung dengan tiang-tiang besar. Atapnya melengkung seperti perahu, melambangkan kedekatan masyarakat Lampung dengan sungai dan laut. Rumah ini bukan tempat tinggal biasa, melainkan balai adat tempat musyawarah dan upacara begawi.
Di kampung-kampung adat seperti di Kecamatan Abung Selatan, Anda masih bisa menemukan Nuwou Sesat yang terawat. Atapnya terbuat dari ijuk, dan dindingnya dari anyaman bambu. Sayangnya, banyak yang mulai diganti dengan material modern. Kunjungi saat ada upacara adat untuk melihat fungsinya secara langsung.
2. Siger: Mahkota yang Menjadi Ikon Provinsi
Siger adalah mahkota pengantin wanita Lampung, berbentuk melengkung dengan sembilan puncak runcing. Setiap puncak melambangkan sembilan marga adat Lampung. Bentuknya yang khas kini diadopsi menjadi logo provinsi dan hiasan gerbang kota di Bandar Lampung.
Dalam prosesi pernikahan adat, siger dikenakan dengan tata cara khusus. Beratnya bisa mencapai dua kilogram. Saya pernah melihat pengrajin siger di daerah Sukarame, Bandar Lampung, yang masih mempertahankan teknik tempa kuningan tradisional. Proses pembuatannya memakan waktu berminggu-minggu.
3. Kain Tapis: Tenun yang Menyimpan Doa
Kain tapis adalah wastra tenun khas Lampung dengan benang emas dan perak yang ditenun manual. Motifnya tidak sembarangan—setiap corak memiliki makna spiritual. Motif pucuk rebung melambangkan pertumbuhan, sementara motif kapal melambangkan perjalanan hidup.
Pengrajin tapis tersebar di daerah Tanggamus dan Pringsewu. Menurut pengalaman, kain tapis asli bisa dikenali dari ketebalan benang emasnya yang menonjol. Harganya bervariasi tergantung kerumitan motif dan kualitas benang. Sebaiknya cek langsung ke sentra tenun untuk memastikan keasliannya.
4. Prosesi Begawi: Upacara Adat Penuh Filosofi
Begawi adalah upacara adat terbesar dalam masyarakat Lampung. Biasanya digelar untuk pernikahan, khitanan, atau pengangkatan gelar adat. Prosesinya bisa berlangsung berhari-hari, melibatkan seluruh warga kampung. Puncaknya adalah acara "ngebas" atau potong kerbau.
Saya beruntung menyaksikan begawi di Desa Negeri Sakti, Pesawaran. Ritualnya dimulai dengan doa bersama di bawah Nuwou Sesat, lalu diikuti tari-tarian dan pencak silat. Suara gendang dan gamolan (alat musik bambu khas Lampung) mengiringi setiap langkah. Bagi wisatawan, ini adalah kesempatan langka melihat langsung sistem kekerabatan Lampung yang komunal.
5. Tari Sigeh Pengunten: Tarian Penyambutan yang Anggun
Tari Sigeh Pengunten adalah tarian selamat datang khas Lampung. Penarinya mengenakan kain tapis dan siger, dengan gerakan gemulai yang melambangkan keramahan. Tarian ini sering ditampilkan di acara resmi pemerintahan dan penyambutan tamu kehormatan.
Yang menarik, tarian ini tidak hanya dilakukan oleh perempuan. Ada juga versi laki-laki yang disebut Tari Bedana. Keduanya sama-sama menggunakan properti selendang dan gerakan tangan yang rumit. Jika Anda berkunjung ke acara budaya di Taman Budaya Lampung, biasanya tarian ini menjadi pembuka.
6. Situs Pugung Raharjo: Piramida di Tengah Hutan
Di Kecamatan Pugung, Kabupaten Lampung Timur, terdapat situs megalitikum seluas 30 hektare. Kompleks ini terdiri dari punden berundak, menhir, dolmen, dan batu berlubang. Tim arkeolog memperkirakan situs ini digunakan antara abad ke-6 hingga 12 Masehi.
Yang membuatnya istimewa adalah keberadaan "piramida" berundak yang mirip dengan Candi Sukuh di Jawa Tengah. Belum ada kepastian apakah ini peninggalan Hindu, Buddha, atau kepercayaan asli. Lokasinya sekitar dua jam dari Bandar Lampung. Jalan menuju situs sudah beraspal, tapi sebagian masih tanah. Bawalah air minum sendiri karena fasilitas di lokasi terbatas.
7. Kopi Lampung: Warisan yang Mendunia
Lampung adalah salah satu penghasil kopi robusta terbesar di Indonesia. Kopi dari daerah ini dikenal dengan rasa earthy dan kadar kafein tinggi. Tradisi minum kopi sudah mengakar sejak masa kolonial Belanda, ketika perkebunan kopi dibuka di daerah Tanggamus dan Lampung Barat.
Di Bandar Lampung, Anda bisa menemukan kedai kopi tradisional yang menyajikan kopi tubruk dengan gula aren. Cara minumnya unik: ampas kopi dibiarkan di dasar cangkir, dan Anda menunggu hingga mengendap sebelum meminumnya. Ini bukan sekadar minuman, melainkan ritual sosial yang mempererat hubungan antarwarga.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa perbedaan utama antara masyarakat Lampung Pepadun dan Saibatin?
Pepadun adalah masyarakat yang tinggal di pedalaman dan memiliki sistem kekerabatan berdasarkan marga. Saibatin adalah masyarakat pesisir dengan struktur adat yang lebih hierarkis, dipimpin oleh seorang batin (kepala adat). Perbedaan ini mempengaruhi upacara adat dan bahasa sehari-hari.
Kapan waktu terbaik menyaksikan upacara begawi?
Begawi biasanya digelar pada musim panen atau saat pernikahan besar. Waktu pastinya tidak tetap karena tergantung kesepakatan adat. Hubungi pengurus adat setempat atau Dinas Pariwisata Lampung untuk informasi jadwal terbaru.
Apakah kain tapis asli masih diproduksi?
Masih, meski jumlah pengrajin berkurang drastis. Sentra tenun terbesar ada di Kecamatan Pringsewu dan Kotaagung. Kain tapis asli bisa dihargai jutaan rupiah tergantung kerumitan motif. Hindari membeli di toko suvenir besar karena banyak yang palsu atau hasil printing.
Apa saja yang bisa dilakukan di Situs Pugung Raharjo selain melihat batu?
Anda bisa trekking di hutan di sekitarnya, mengunjungi museum kecil di lokasi yang menyimpan artefak, dan berfoto dengan latar punden berundak. Sayangnya, belum ada pemandu tetap di lokasi. Disarankan datang bersama rombongan atau menyewa pemanding lokal dari desa terdekat.
Bagaimana cara membedakan kopi Lampung asli dengan kopi dari daerah lain?
Kopi robusta Lampung memiliki aroma cokelat dan rempah yang kuat, dengan body berat. Setelah diseduh, ampasnya cenderung lebih kasar. Jika Anda membeli biji kopi, perhatikan bentuknya—biji robusta Lampung biasanya lebih bulat dibandingkan arabika. Belilah langsung dari petani di Tanggamus untuk mendapatkan kualitas terbaik.
Warisan budaya Lampung bukan sekadar tontonan wisata. Ia adalah identitas yang terus dirawat oleh masyarakatnya. Dari tenun tapis hingga upacara begawi, setiap elemen menyimpan cerita tentang bagaimana manusia Lampung memaknai kehidupan, kematian, dan kebersamaan. Jika Anda mampir ke Lampung, luangkan waktu lebih dari sekadar transit. Duduklah di kedai kopi, dengarkan cerita tetua adat, dan saksikan langsung bagaimana sejarah masih bernapas di setiap sudut provinsi ini.