LAMPUNG — Bank Indonesia meminta pemerintah mewaspadai laju inflasi pangan yang sudah menyentuh 5% secara tahunan. Lonjakan harga sejumlah bahan pokok dinilai berpotensi menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok miskin dan rentan.
Peringatan Bank Indonesia soal inflasi pangan 5% secara tahunan menyorot tiga komoditas yang paling bergejolak: daging ayam, cabai rawit, dan beras. Ketiganya adalah bahan pokok yang bobot konsumsinya besar di keranjang pengeluaran rumah tangga berpenghasilan rendah.
Angka 5% itu berada jauh di atas target inflasi umum yang dijaga BI. Artinya, kenaikan harga pangan berjalan lebih cepat daripada laju inflasi keseluruhan, dan beban terberatnya jatuh pada rumah tangga dengan porsi belanja pangan terbesar.
Bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, belanja pangan menyerap porsi terbesar dari total pengeluaran. Ketika harga cabai rawit atau daging ayam melonjak, tidak ada ruang fiskal di kantong mereka untuk menyerap kenaikan itu.
Efeknya bukan sekadar mengurangi porsi lauk. Banyak keluarga beralih ke sumber protein yang lebih murah, mengurangi frekuensi beli, atau menunda pengeluaran lain seperti pendidikan dan kesehatan. Pola ini yang membuat inflasi pangan menjadi isu daya beli, bukan sekadar isu harga di pasar.
Kelompok rentan yang baru saja keluar dari garis kemiskinan paling rawan terdorong kembali ke bawah garis itu ketika harga pangan melonjak dalam waktu singkat.
Cabai rawit dikenal paling volatil di antara komoditas pangan strategis. Harganya bisa berlipat dalam hitungan hari karena pasokan yang bergantung musim panen dan distribusi antardaerah. Lonjakan singkat sudah cukup memukul pedagang kecil dan konsumen harian.
Beras punya karakter berbeda. Sebagai makanan pokok utama, kenaikan harganya menyebar ke hampir seluruh rumah tangga dan sulit disubstitusi. Daging ayam melengkapi daftar sebagai sumber protein yang permintaannya naik pada periode tertentu, sementara pasokan tidak selalu siap mengikuti.
Ketiga komoditas itu menjelaskan mengapa BI tidak berbicara soal inflasi umum, melainkan spesifik menyoroti pangan. Sumber gejolaknya ada di sisi pasokan dan distribusi, bukan di sisi permintaan agregat.
Di tingkat pasar, pedagang dan konsumen biasanya menempuh penyesuaian sendiri sebelum intervensi pemerintah sampai ke mereka. Pedagang mengecilkan porsi jual atau mengurangi stok komoditas yang harganya sedang melonjak untuk menghindari kerugian.
Konsumen memilih strategi bertahan: membeli dalam jumlah lebih kecil meski harga satuan lebih mahal, beralih ke pasar tradisional yang harganya lebih rendah, atau mengganti lauk ke sumber protein yang lebih terjangkau.
Penyesuaian semacam itu menahan konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perlambatan belanja rumah tangga akan terasa sampai ke sektor ritel dan produsen barang konsumsi.
Dari sisi kebijakan, peringatan BI mengarah pada dua jalur yang biasa ditempuh pemerintah. Pertama, operasi pasar dan stabilisasi pasokan untuk komoditas yang harganya sedang melonjak, termasuk memperlancar distribusi antardaerah.
Kedua, menjaga agar gejolak harga pangan tidak merambat menjadi ekspektasi inflasi yang lebih luas. Jika ekspektasi itu terbentuk, dampaknya bisa mendorong BI mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang berimbas ke biaya kredit dan pasar obligasi.
Bagi investor, sinyal ini layak dicermati pada emiten konsumer dan ritel yang bergantung pada daya beli rumah tangga. Pelemahan konsumsi kelas bawah biasanya lebih dulu terlihat di volume penjualan daripada di nilai penjualan.
Sejauh mana pemerintah merespons peringatan BI akan menentukan apakah gejolak harga pangan berhenti sebagai gangguan musiman atau berkembang menjadi tekanan yang lebih panjang terhadap inflasi dan daya beli.