BANDARLAMPUNG — Sebanyak 539 wisudawan dilantik pada wisuda ke-76 Universitas Bandar Lampung, terdiri dari 330 lulusan Sarjana (S1), 202 lulusan Magister (S2), dan 7 lulusan Doktor (S3). Pelantikan berlangsung di Gedung Mahligai UBL Convention Hall, Bandarlampung.
Di hadapan para wisudawan, Gubernur Lampung menegaskan bahwa hilirisasi bukan sekadar wacana di atas kertas. Pemprov menyebut sejumlah lini sedang digarap, dari pengolahan ubi kayu hingga ekosistem bioetanol.
Gubernur menyebut hilirisasi sebagai jalur utama Lampung untuk bergerak maju. Pengolahan ubi kayu didorong menjadi produk bernilai tinggi, disusul pembangunan pabrik pengolahan kopi robusta dan pengembangan ekosistem bioetanol.
Hilirisasi unggas terintegrasi dari hulu ke hilir juga masuk daftar prioritas. "Semua langkah strategis ini membutuhkan tenaga kerja yang terampil, profesional, adaptif, serta wirausahawan muda yang berani berinovasi," tegas Gubernur Lampung dalam sambutannya.
Kebutuhan itu bertemu dengan struktur penduduk Lampung yang mencapai 9,5 juta jiwa. Lebih dari 45 persen di antaranya masuk kelompok Gen Z dan Post Gen Z.
Pemprov memandang komposisi tersebut sebagai aset ekonomi, bukan sekadar angka demografi. Perguruan tinggi diminta mengambil peran lewat riset terapan, pengabdian masyarakat, dan penguatan ekosistem kewirausahaan.
Pemerintah Provinsi Lampung menyatakan pintu kolaborasi terbuka lebar bagi akademisi dan perguruan tinggi, termasuk UBL. Skema yang ditawarkan mencakup riset terapan, pengabdian masyarakat, hingga penguatan ekosistem kewirausahaan.
Pemprov juga memberi apresiasi atas langkah UBL yang terus bertransformasi menuju World Class Entrepreneur University melalui penguatan Talent and Career Ecosystem. Arah kampus itu dinilai sejalan dengan kebutuhan tenaga kerja di sektor hilirisasi.
Bagi daerah, sambung Pemprov, kolaborasi tersebut menjadi jalan mewujudkan Lampung Maju menuju Indonesia Emas. Bagi lulusan, hilirisasi menyediakan lapangan kerja yang menuntut keterampilan teknis, bukan hanya gelar.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah II, Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc., mengingatkan wisudawan agar tidak berhenti belajar setelah menerima ijazah. Ia menyebut risiko itu sebagai sindrom toga.
"Sindrom toga adalah kondisi psikologis di mana seseorang yang baru lulus merasa sudah menguasai segalanya sehingga berhenti untuk belajar. Jangan sampai hal itu terjadi. Jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan setiap orang yang ditemui sebagai guru. Di awal karier, fokuslah untuk mengambil peran dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat," ujar Prof. Iskhaq.
Ia mendorong para lulusan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Bagi wisudawan yang baru memasuki dunia kerja, kontribusi nyata di awal karier dinilai lebih menentukan daripada klaim penguasaan ilmu.
Dengan 539 lulusan baru yang tersebar di tiga jenjang, kebutuhan tenaga terampil di sektor hilirisasi Lampung mendapat tambahan pasokan. Pemprov tinggal membuktikan janji kolaborasi itu berjalan di lapangan, bukan berhenti di panggung wisuda.