BANDAR LAMPUNG — Pemprov Lampung memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, melalui operasi modifikasi cuaca dan penambahan personel lapangan. Dukungan 15 unit nozzle dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut menunjang upaya pemadaman oleh tim darat. Penambahan kekuatan dari darat dinilai krusial karena pemadaman via udara masih terkendala kondisi vegetasi TNWK.
Tajuk pepohonan di kawasan TNWK yang rapat menghambat air mencapai permukaan lahan gambut secara optimal. Kondisi itu membuat pemadaman langsung oleh personel di lapangan tetap menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. Tim gabungan bergerak melalui jalur darat dan udara dengan mempertimbangkan kondisi medan serta cuaca yang menjadi tantangan tersendiri.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Lampung periode 11-18 Oktober 2026 mencatat sembilan sortie penerbangan. Operasi menggunakan satu pesawat Cessna Caravan 208B EX yang berpangkalan di Bandara Radin Inten II, Natar, Lampung Selatan.
Dalam pelaksanaannya, OMC memakai 3.000 kilogram natrium klorida (NaCl) dan 4.800 kilogram dry ice. Penyemaian NaCl pada 11-13 Oktober 2026 berhasil memicu hujan, tetapi pergerakan angin membuat hujan turun di Metro dan Natar Lampung Selatan, bukan di kawasan TNWK yang menjadi sasaran utama.
Pemantauan titik api terus dilakukan di sejumlah wilayah Lampung. Hasil evaluasi menunjukkan titik api dengan tingkat kepercayaan tinggi turun dari 11 titik menjadi nihil. Meski demikian, titik api dengan tingkat kepercayaan sedang masih terpantau sehingga kewaspadaan di lapangan tetap diperlukan.
Jihan Nurlela meminta BPBD Lampung mendata seluruh personel dan peralatan yang siap digunakan di setiap kabupaten/kota. Pendataan diperlukan untuk mengetahui kapasitas penanganan karhutla secara menyeluruh dan memastikan dukungan dapat dikerahkan sesuai kebutuhan, tidak hanya terfokus pada kawasan TNWK.
"Pendataan ini diperlukan untuk mengetahui kapasitas penanganan Karhutla secara menyeluruh," kata Jihan.
Wagub juga mengarahkan pemetaan kemampuan penanganan berdasarkan skala kebakaran, mulai dari kecil, sedang, hingga besar. Dengan pemetaan itu, kebutuhan personel, peralatan, dan dukungan operasional dapat disesuaikan dengan tingkat kebakaran serta kondisi masing-masing wilayah.
Jihan meminta informasi mengenai titik api dan polusi asap yang beredar di media sosial segera diverifikasi melalui pengecekan kondisi terkini di lapangan. Langkah itu penting untuk memastikan informasi yang diterima masyarakat akurat dan mencegah kesalahpahaman akibat foto atau kabar lama yang kembali beredar.
Pemprov Lampung mendorong penanganan karhutla melalui kesiapan personel dan peralatan, pemantauan titik api, serta koordinasi lintas instansi. Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat pemadaman, mencegah meluasnya kebakaran, dan melindungi kawasan hutan serta masyarakat dari dampak karhutla.