LAMPUNG — Kementerian Perdagangan menjajaki kerja sama investasi pengolahan singkong dengan Mozambik, mencakup transfer teknologi budi daya hingga pembangunan fasilitas olahan. Penjajakan berjalan di tengah nilai perdagangan kedua negara yang baru mencapai 110,7 juta dolar AS pada Januari-Agustus 2026.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan penjajakan itu dibahas dalam pertemuan dengan Menteri Negara Urusan Perdagangan Mozambik António do Rosário Grispos. Selain pengolahan singkong, kedua pihak membicarakan pemanfaatan perjanjian dagang preferensial Indonesia-Mozambique PTA yang sudah berlaku sejak 2019.
Kerja sama pengolahan singkong menyasar peningkatan nilai tambah komoditas pertanian Mozambik. Cakupannya meliputi pemanfaatan teknologi budi daya, peningkatan produktivitas, dan pengembangan fasilitas pengolahan.
Sepanjang Januari-Agustus 2026, total perdagangan Indonesia-Mozambik tercatat 110,7 juta dolar AS. Ekspor Indonesia ke Mozambik mencapai 88,9 juta dolar AS, sementara impor dari negara Afrika Timur itu 21,9 juta dolar AS.
Angka tersebut turun dibandingkan sepanjang 2025 yang mencapai 162,8 juta dolar AS. Rinciannya, ekspor Indonesia 107,8 juta dolar AS dan impor 55 juta dolar AS.
Produk utama ekspor Indonesia ke Mozambik antara lain minyak kelapa sawit beserta fraksinya, sabun, asam lemak industri dan turunannya, margarin, serta semen. Adapun komoditas impor utama dari Mozambik meliputi tembakau, batu bara, mineral industri, dan grafit alami.
Perjanjian dagang preferensial yang ditandatangani 27 Agustus 2019 memberi akses preferensi bagi 242 pos tarif produk Mozambik dan 217 pos tarif produk Indonesia. Budi menilai pemanfaatan fasilitas tarif itu belum optimal sehingga perlu didorong.
"Indonesia dan Mozambik berpeluang besar untuk memperkuat hubungan ekonomi yang saling menguntungkan. Kami ingin mendorong peningkatan perdagangan dua arah, memperluas akses pasar bagi kedua negara, serta membuka peluang investasi yang bernilai tambah bagi perekonomian," ujar Budi dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Indonesia mengusulkan penyelenggaraan Joint Committee Meeting Indonesia-Mozambique PTA kedua. Forum itu akan mengevaluasi implementasi perjanjian sekaligus membahas peluang peningkatan kerja sama menuju Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).
António do Rosário Grispos memandang Indonesia sebagai mitra strategis untuk memperluas pemasaran produk unggulan Mozambik ke kawasan ASEAN. Menurutnya, penguatan hubungan dagang perlu ditempuh lewat peningkatan akses pasar dan pemanfaatan PTA.
Kedua negara juga mendorong penguatan komunikasi antarpemerintah dan keterlibatan pelaku usaha. Bentuknya berupa penjajakan kerja sama bisnis atau business matching serta partisipasi dalam pameran perdagangan.
Diversifikasi komoditas menjadi salah satu jalur yang dibahas untuk menaikkan nilai transaksi. Selama ini struktur perdagangan kedua negara masih terkonsentrasi pada sawit dan turunannya dari sisi Indonesia, serta tembakau dan batu bara dari sisi Mozambik.
Bagi eksportir sawit, sabun, dan semen, perluasan akses pasar ke Mozambik membuka peluang tambahan di kawasan Afrika bagian selatan. Namun realisasinya bergantung pada pemanfaatan preferensi tarif yang selama ini belum maksimal.
Investasi pengolahan singkong menawarkan jalur berbeda, yakni penjualan teknologi dan peralatan olahan, bukan sekadar barang konsumsi. Skema ini berpotensi melibatkan produsen mesin pertanian dan perusahaan pengolahan pangan dalam negeri.
Kepastian kerja sama masih menunggu hasil pertemuan Joint Committee Meeting yang diusulkan Indonesia. Belum ada tenggat resmi maupun target nilai perdagangan yang disepakati dari pembahasan terbaru kedua negara.