LAMPUNG — AMD menyebut Nvidia RTX Spark bukan kategori baru, melainkan validasi atas arsitektur unified memory yang sudah mereka jual sejak awal 2025 lewat Strix Halo. Lewat wawancara dengan Tom's Guide, VP Client Product Marketing AMD Mike Nordquist mempertanyakan kompatibilitas Arm dan batas memori 128GB yang diusung laptop besutan Nvidia bersama Surface Laptop Ultra itu.
Nordquist menyebut kehadiran pemain baru di kategori ini sebagai hal positif untuk perkembangan pasar. Menurutnya, kompetisi justru memperkuat validasi bahwa arsitektur unified memory memang arah yang benar untuk laptop AI.
AMD kini sudah masuk generasi kedua lewat Ryzen AI Max 400 series dengan codename Gorgon Point Halo. Nordquist mengklaim chip tersebut membawa kapasitas 50% lebih besar dibanding RTX Spark, sehingga mampu menjalankan model AI yang lebih besar.
RTX Spark menetapkan plafon unified memory di 128GB. AMD menempatkan Gorgon Halo di angka 192GB. Selisih 64GB ini, menurut Nordquist, berdampak langsung ke kemampuan menjalankan model AI lokal.
Dengan kapasitas lebih besar, AMD mengklaim pengguna bisa menjalankan model hingga 300 miliar parameter dengan kualitas output yang lebih tinggi. Untuk pekerjaan seperti menjalankan agen AI bersamaan atau inferensi model besar secara lokal, ruang memori memang jadi faktor pembatas utama.
Kritik paling tajam Nordquist bukan soal angka memori, melainkan soal arsitektur. RTX Spark dan Snapdragon X Elite dibangun di atas Arm, sementara prosesor AMD dan Intel memakai x86 yang sudah jadi standar native Windows PC selama lebih dari 30 tahun.
Masalah Arm di Windows terletak pada proses emulasi. Aplikasi yang dibangun untuk x86 harus diterjemahkan agar berjalan di Arm, dan proses translasi itu berjalan bersamaan saat aplikasi dipakai. Konsekuensinya, ada penalti performa yang sulit dihindari sepenuhnya.
Nordquist menyoroti bahwa kata "Arm" nyaris tidak muncul dalam presentasi peluncuran Nvidia maupun Microsoft. "Saya tidak mendengar Arm disebut sekali pun. Menarik bahwa baik Nvidia maupun Microsoft tidak membicarakannya," ujarnya.
Keunggulan yang ditekankan AMD adalah kompatibilitas tanpa lapisan translasi. Semua aplikasi dan game berjalan native di x86, tanpa khawatir ada software yang gagal berjalan atau performanya turun karena emulasi.
"Mereka baru di pasar laptop secara umum. Kami sudah 30 tahun lebih di ruang ini, jadi kami tahu cara menjalankan Windows," kata Nordquist. "Tidak ada emulasi; game langsung berjalan native. Anda membeli sesuatu yang pasti bekerja, tanpa harus khawatir ada yang rusak."
Klaim Nordquist punya dasar teknis, tetapi tetap perlu diuji di lapangan. Beberapa catatan yang layak dicermati sebelum menyimpulkan siapa yang menang:
Perdebatan ini tidak akan selesai di atas panggung peluncuran. Baik AMD maupun Nvidia sama-sama membawa klaim kuat di atas kertas. AMD menonjolkan rekam jejak 30 tahun di pasar laptop x86 dan kompatibilitas tanpa emulasi, sementara Nvidia menawarkan pendekatan baru dengan efisiensi Arm dan integrasi AI yang dalam.
Yang menentukan adalah hasil benchmark dunia nyata, terutama untuk gaming, aplikasi produktivitas berat, dan beban AI lokal. Sampai angka-angka itu keluar, klaim Nordquist soal "tidak ada yang magis dari Arm" masih sebatas argumen yang menunggu pembuktian di meja uji.