Mobil Listrik Bekas Mulai Dilirik, Konsumen Kini Tanya Biaya Baterai dan Garansi

Penulis: Darmawan Iskandar  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 10:09:31 WIB
Konsumen memeriksa kondisi baterai mobil listrik bekas sebelum memutuskan pembelian.

LAMPUNG — Mobil listrik bekas kian dilirik konsumen Indonesia yang ingin merasakan kendaraan listrik dengan anggaran terbatas. Pola pertanyaan mereka bergeser: bukan lagi sekadar harga beli, melainkan kondisi baterai, biaya pengisian daya, masa garansi, hingga nilai jual kembali. Owner Garasi 91, Ferdian Kusuma Putra, menyebut pergeseran ini menandai konsumen yang makin rasional dalam menghitung biaya kepemilikan.

Ferdian Kusuma Putra menilai konsumen mobil listrik bekas tidak lagi berhenti di pertanyaan harga. Mereka mulai menggali biaya yang harus disiapkan setelah kendaraan resmi menjadi milik mereka, mulai dari perawatan rutin hingga layanan purnajual.

Pertanyaan Bergeser dari Harga Beli ke Biaya Kepemilikan

Pada mobil konvensional, kata Ferdian, pertanyaan pembeli umumnya berkisar konsumsi bahan bakar, servis berkala, suku cadang, dan potensi biaya perbaikan. Pola itu berubah ketika kendaraan yang diincar berjenis listrik.

"Pada mobil konvensional, pertanyaan umumnya berkaitan konsumsi bahan bakar, servis berkala, suku cadang dan potensi biaya perbaikan. Sementara di mobil listrik bekas, konsumen juga bertanya kondisi baterai, biaya pengisian daya, masa garansi, perawatan hingga ketersediaan layanan purnajual," ujar Ferdian dalam keterangannya.

Menurutnya, konsumen kini menghitung dua hal sekaligus: kemampuan membeli kendaraan dan kemampuan merawatnya dalam jangka panjang.

Baterai Jadi Pertimbangan Utama, Bukan Sekadar Harga Mobil

Kekhawatiran soal baterai masih menjadi ganjalan terbesar calon pembeli. Chintia Aswanti (31), salah satu konsumen, mengaku sempat ragu sebelum mempertimbangkan mobil listrik bekas. Ia lebih dulu membandingkan sejumlah pilihan karena takut biaya perbaikan baterai membengkak.

"Awalnya saya justru takut membeli mobil listrik bekas karena berpikir kalau ada masalah baterai pasti mahal. Setelah dihitung, ternyata yang lebih penting bukan cuma harga mobilnya, tetapi kondisi baterainya, garansi dan biaya pemakaian sehari-hari. Dari situ saya merasa mobil listrik bekas ternyata layak dipertimbangkan," ungkap Chintia.

Keraguan Chintia berkurang setelah ia menghitung kebutuhan penggunaan harian dan mendapat informasi soal kondisi unit yang akan dibeli.

Harga Anjlok, tapi Pilihan Konsumen Masih Selektif

Harga mobil listrik bekas yang anjlok di pasaran menjadi pemicu utama minat konsumen. Kendaraan ramah lingkungan ini jadi opsi masuk akal bagi pembeli yang ingin beralih ke listrik tanpa harus mengeluarkan dana besar untuk unit baru.

Meski begitu, Ferdian menegaskan konsumen mobil listrik bekas masih sangat selektif. Mereka biasanya lebih banyak menggali informasi soal kondisi baterai, biaya perawatan, dan penggunaan harian sebelum memutuskan membeli.

Mobil Konvensional Bekas Masih Pegang Kepercayaan Pasar

Di sisi lain, mobil konvensional bekas masih memiliki pasar dan tingkat kepercayaan yang lebih kuat. Konsumen sudah lebih familiar dengan biaya perawatan, ketersediaan suku cadang, maupun layanan servisnya.

"Konsumen biasanya lebih banyak menggali informasi soal kondisi baterai, biaya perawatan dan penggunaan hariannya. Di sisi lain, mobil konvensional bekas masih memiliki pasar dan tingkat kepercayaan yang lebih kuat karena konsumen sudah lebih familiar dengan biaya perawatan, ketersediaan suku cadang maupun layanan servisnya," tukas Ferdian.

Ferdian menilai masuknya mobil listrik ke pasar kendaraan bekas membuat konsumen butuh informasi lebih detail sebelum mengambil keputusan. Hitungannya bukan lagi harga beli semata, tetapi total biaya memiliki kendaraan secara keseluruhan.

Reporter: Darmawan Iskandar
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top