BANDAR LAMPUNG — Pemeriksaan gabungan yang melibatkan Polda Lampung, Bapanas, Bulog, dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung menyisir tiga gerai ritel modern di Kota Bandar Lampung. Hasilnya, ketersediaan beras premium di lapangan jauh dari normal.
Superindo Tirtayasa menjadi gerai dengan kondisi paling berat. Stok beras premium di sana dilaporkan kosong sejak sekitar sebulan sebelum pemeriksaan. Pengelola gerai menyebut pasokan bergantung pada pengiriman kantor pusat yang masih seret.
Di Indogrosir Soekarno Hatta, beras premium yang tersedia hanya kemasan 10 kilogram. Merek Rosa tercatat tersisa 8 ton atau setara 800 sak, sedangkan Dua Koki hanya sekitar 100 sak.
Beras kemasan 5 kilogram tidak ada di rak saat petugas memeriksa. Untuk menahan laju pembelian, toko menerapkan batas maksimal satu sak bagi anggota rumah tangga dan tiga sak bagi anggota warung per transaksi.
Pembatasan serupa berlaku di Chandra Supermarket. Pengelola menyebut lonjakan permintaan datang dari pedagang pasar tradisional yang mencoba membeli beras di ritel modern karena selisih harga.
Keterbatasan pasokan juga menimpa beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Di Chandra Supermarket, beras SPHP kemasan 5 kilogram dijual Rp 62.500. Namun stok SPHP di Superindo sedang kosong, sementara Indogrosir melaporkan pasokannya terbatas dan tidak menentu.
Kondisi itu jadi sorotan karena beras SPHP menjadi pilihan masyarakat saat beras premium sulit didapat. Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun menyatakan pengawasan tidak hanya menyasar harga jual.
"Kami terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau harga, mutu, dan distribusi beras agar kondisi di lapangan dapat ditindaklanjuti sesuai kewenangan masing-masing," kata Yuni.
Di tengah keterbatasan stok, harga beras yang ditemukan petugas masih mengacu pada harga eceran tertinggi (HET). Ritel yang diperiksa melaporkan harga beras premium kemasan 10 kilogram sebesar Rp 149.000, sedangkan beras SPHP kemasan 5 kilogram dijual Rp 62.500.
Pelaku usaha justru mengeluhkan tingginya harga modal dari pemasok. Di Indogrosir, harga modal beras Rosa dan Dua Koki mencapai sekitar Rp 148.000 per sak, lalu dijual Rp 149.000 per sak. Selisih tipis itu membuat margin penjualan pedagang nyaris tidak tersisa.
Yuni mengatakan pemantauan dilakukan untuk memastikan harga dan ketersediaan beras sesuai ketentuan pemerintah.
"Pemantauan ini kami lakukan bersama instansi terkait untuk melihat langsung kondisi harga dan ketersediaan beras di lapangan," ujarnya, dilansir Kompascom, Senin (5/10/2026).
Satgas menjadwalkan pemantauan lanjutan pada Senin (5/10/2026) di Pasar Way Halim, Pasar Gintung, Pasar Tugu, Pasar Kangkung, serta Toko Beras Sariwangi Telukbetung.
Hasil pengawasan akan menjadi bahan evaluasi bersama instansi terkait. Yuni menegaskan, apabila ditemukan indikasi pelanggaran dalam perdagangan beras, pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi berwenang untuk menindaklanjutinya sesuai ketentuan yang berlaku.