LAMPUNG — Pemerintah menargetkan net zero emission sektor industri tercapai pada 2050, sepuluh tahun lebih cepat dari rencana awal 2060. Percepatan target itu disampaikan Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dalam forum industri hijau di Jakarta, dengan empat agenda utama sebagai pijakan.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyatakan arah kebijakan industri nasional kini dikunci pada penurunan emisi. Target 2050 dipilih meski dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) yang diratifikasi lewat UU Nomor 16 Tahun 2016 masih mematok net zero emission nasional pada 2060.
"Arah ini terus kami bangun untuk berkomitmen pada penurunan emisi nasional dan target net zero emission di sektor industri yaitu pada tahun 2050, lebih cepat 10 tahun dibandingkan rencana yang dibangun bersama-sama 2060," ujar Faisol dalam acara CNN Indonesia Evolution Forum, Rabu (30/9).
Faisol merinci ada empat agenda yang menjadi fokus implementasi penurunan emisi nasional di sektor manufaktur:
Keempat agenda itu tidak berdiri sendiri. Faisol menyebut ada sejumlah aspek penguat yang harus jalan bersamaan, mulai dari energi, emisi bahan baku, sumber daya, proses produksi, teknologi, air dan limbah, produk, hingga rantai nilai tata kelola pembiayaan dan kelembagaan.
"Keempatnya didukung penguatan aspek energi emisi bahan baku, sumber daya, proses produksi, teknologi, air dan limbah, produk, dan rantai nilai tata kelola pembiayaan, dan terakhir kelembagaan," kata Faisol.
Agenda industri hijau bukan barang baru di meja Kementerian Perindustrian. Pemerintah telah menempatkannya dalam kerangka kebijakan industri melalui sejumlah peraturan perundang-undangan dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Komitmen iklim Indonesia sendiri tertuang dalam ratifikasi Paris Agreement melalui UU Nomor 16 Tahun 2016. Dokumen ENDC menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca 31,89% dengan upaya sendiri, dan hingga 43,20% bila ada bantuan internasional, pada 2030.
Ada jarak yang perlu dijembatani antara target 2030 dan ambisi 2050. Penurunan emisi 31,89% pada 2030 adalah fase antara, sementara net zero emission menuntut emisi bersih nol di sektor industri tiga dekade setelahnya.
Faisol menempatkan tata kelola pembiayaan sebagai salah satu aspek penguat. Bagi pelaku usaha manufaktur, ini berarti transisi energi dan teknologi hijau akan menempel pada struktur biaya produksi, bukan sekadar kewajiban kepatuhan lingkungan.
Pemerintah belum merinci instrumen insentif fiskal atau skema pembiayaan spesifik yang menyertai target 2050. Yang tersedia saat ini adalah kerangka regulasi dan dokumen perencanaan jangka menengah sebagai pijakan awal.
Forum yang mengangkat tema "Powering Indonesia's Future: Green Cars, Blue Skies" itu digelar di Studio II Gedung Transmedia, Jakarta, dan disiarkan melalui kanal YouTube serta live streaming CNNIndonesia.com. Forum terdiri dari dua sesi, dibuka langsung oleh Faisol.