BEKASI — Panen raya yang digelar Polda Metro Jaya di Muaragembong menghasilkan 10 ton ikan dari berbagai jenis budidaya. Rinciannya, 5.000 kilogram ikan nila dan mujair, 3.000 kg ikan lele, 1.000 kg udang vaname, serta 1.000 kg udang pancet.
Budidaya dilakukan pada 20 kolam ikan nila dan mujair, dua kolam ikan lele, dan 10 kolam udang. Selain perikanan, Polda Metro Jaya juga mengembangkan peternakan ayam petelur di lokasi yang sama dengan hasil panen mencapai 4.000 butir telur ayam.
Seluruh hasil panen perikanan dan peternakan tersebut tidak dijual ke pasar umum. Polda Metro Jaya mengarahkannya untuk mendukung rantai pasok bahan baku SPPG Polda Metro Jaya.
"Panen raya ini bukan sekadar melihat hasil budidaya, tetapi bagaimana kita membangun ekosistem pangan yang berkelanjutan. Hasil dari sektor perikanan dan peternakan ini kita arahkan untuk mendukung rantai pasok bahan baku SPPG Polda Metro Jaya," kata Kapolda Metro Jaya Komjen Pol. Asep Edi Suheri.
Menurut Asep, pengembangan budidaya perikanan dan peternakan di Muaragembong diarahkan untuk membangun ketersediaan pangan yang berkelanjutan. Caranya dengan memanfaatkan potensi wilayah setempat.
Asep menekankan aspek keberlanjutan sebagai bagian penting dalam pengelolaan program ketahanan pangan. Prosesnya dimulai dari budidaya, panen, hingga pemanfaatan hasil.
"Harapannya, ekosistem ini terus berjalan dan berkembang sehingga ketersediaan bahan baku dapat terjaga. Sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat di sekitar lokasi budidaya," ujarnya.
Lokasi budidaya di Muaragembong dipilih karena memiliki potensi perairan yang mendukung. Kawasan pesisir Kabupaten Bekasi dikenal sebagai sentra tambak dan budidaya perairan.
Dengan hasil panen 10 ton ini, Polda Metro Jaya memastikan pasokan bahan baku untuk SPPG tidak bergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar. Model budidaya mandiri ini juga membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar yang terlibat dalam proses pengelolaan kolam.