LAMPUNG — PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mencatat tingkat kepuasan dan loyalitas pengguna pelabuhan di level sangat tinggi berdasarkan Survei Nasional Indonesia Development Monitoring (IDM) periode September 2026. Survei terhadap 470 responden dari 94 organisasi pengguna pelabuhan itu menempatkan aspek perbaikan berkelanjutan dan tanggung jawab lingkungan sebagai nilai tertinggi, masing-masing 89,9 persen. Hasil ini menjadi modal Pelindo menjaga kepercayaan pelaku logistik di tengah tekanan efisiensi rantai pasok nasional.
Paragraf pembuka: Survei yang digelar IDM memakai kerangka teori Stimulus-Organism-Response (S-O-R) untuk membaca bagaimana layanan Pelindo membentuk persepsi pelanggan. Direktur Eksekutif IDM Dedy Rohman menilai loyalitas pengguna pelabuhan tidak muncul tiba-tiba, melainkan hasil dari keandalan operasional yang dijaga konsisten. Responden berasal dari organisasi yang sehari-hari bergantung pada jasa kepelabuhanan, mulai dari pelayaran hingga ekspedisi muatan.
Mayoritas indikator layanan Pelindo mencetak angka kepuasan di atas 86 persen. Dua aspek menempati posisi teratas dengan nilai sama, yakni Perbaikan Berkelanjutan dan Tanggung Jawab Lingkungan, masing-masing 89,9 persen.
Pelindo dinilai paling unggul dalam menampung umpan balik pelanggan dan menerjemahkannya menjadi perbaikan proses. Komitmen pada operasi ramah lingkungan dan tanggung jawab sosial juga mendapat apresiasi tinggi dari pengguna jasa.
Nilai Profesionalisme dan Digitalisasi mencapai 89,1 persen. Staf pelabuhan dinilai cakap, responsif, serta menguasai penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pelayanan.
Pada indikator harga, 89,1 persen responden menyatakan tarif layanan Pelindo kompetitif. Sebanyak 88,1 persen memuji kecepatan dan keandalan layanan inti. Angka loyalitas berada di 89,3 persen, menandakan hampir 90 persen responden siap merekomendasikan Pelindo kepada mitra bisnis dan akan terus memakai layanannya.
"Pelanggan setia bukan hanya karena merek Pelindo besar, tapi karena mereka merasakan langsung layanan yang andal, cepat, dan responsif," ujar Dedy Rohman.
Di balik skor tinggi, survei mencatat sekitar 7 persen hingga 11 persen responden memberi penilaian kurang optimal. Indikator yang disorot antara lain keandalan jadwal dan keselamatan operasional.
Dua hal itu berkaitan langsung dengan kelancaran arus barang. Keterlambatan sandar kapal atau insiden keselamatan bisa memicu biaya tambahan bagi eksportir dan importir, terutama pada komoditas yang sensitif waktu.
IDM merekomendasikan sejumlah langkah taktis. Pertama, fokus pada keandalan jadwal sandar kapal, percepatan waktu putar kapal (vessel turnaround time), dan peningkatan transparansi informasi.
Kedua, perluasan gudang, pengerukan alur, serta pengadaan alat bongkar muat modern untuk mencegah kemacetan logistik. Ketiga, penggenjotan pelatihan kompetensi staf mencakup komunikasi,